Selasa, 04 Agustus 2020

Tiga Sekawan DTD

Malam tahun yang biasanya ramai dengan kembang api, kali ini menjadi sepi karena hujan badai mengguyur kota sejak sore tadi. Tiga sekawan berkumpul di rumah sambil menyeduh kopi untuk teman berbagi cerita. Dari sekian banyak kisah, mereka memilih kisah seram untuk diperbincangkan.


"Kamu tahu nggak cerita soal rumah kosong nomor tiga belas?" tanya Dika kepada kedua temannya.

"Rumah yang mana sih?" kata Toni, bingung.

"Itu loh ... yang dekat jalan ke kuburan," sahut Didik sambil menikmati kopi khas Temanggung.

"Emang di sana ada rumah? Aku baru tahu." Toni belum tahu soal hal itu. Dia dengan santai mengambil segelas kopi dan meniup perlahan sebelum meminumnya.

"Ada, aku juga baru tahu karena tempo lalu ada kejadian menghebohkan di sana. Pak Aris mencari rumput untuk makan kambing. Di sekitar rumah itu memang banyak rumput hijau yang sudah tinggi. Saat menebas rumput bagian depan, sayup-sayup terdengar suara tangisan. Sepertinya suara wanita. Pak Aris mencoba menengok ke arah asal suara. Saat mengintip di balik pintu, ada sosok wanita merayap di lantai sambil menangis lirih. Pak Aris langsung lari ketakutan meninggalkan rumput dan aritnya di sana," jelas Dika dengan wajah serius.


Dika memang penduduk asli Kampung Seruni, sedangkan Toni dan Didik berasal dari kota dan sudah dua bulan tinggal bersama Dika. Mereka bekerja di pabrik rokok ternama. Tentunya kisah misteri soal rumah kosong ini lebih dimengerti Dika.


"Halah, paling juga halusinasi," celetuk Didik yang memang pemberani.


Pernah suatu ketika ada suara cekikikan ala Kunti di depan rumah, Didik dengan berani melempar panci ke arah suara itu. Seketika suara tawa berganti tangis lalu menghilang. Mungkin benjol kali, ya?


"Dik, serius tuh ceritanya? Soalnya kemarin Mbok Surti juga cerita kalau rumah kosong arah ke kuburan itu pernah buat gantung diri wanita asing. Sampai sekarang belum diketahui siapa orang itu, tetapi jasadnya sudah dikebumikan secara layak di makam dekat rumah angker itu. Maksudnya sama ya? Rumah nomor tiga belas?" selidik Toni sambil memperkecil jarak duduk antara dirinya dengan Didik.

"Apaan sih deket-deket? Dasar penakut!" protes Didik, mendorong tubuh Toni yang besar tapi bukan tipe pemberani.

"Iya, Ton. Mbok Surti cerita rumah yang sama. Entah sih benar atau nggak. Pastinya ada sesuatu di sana ...."


Dika menatap Didik lalu melirik ke arah Toni. Ide aneh terbesir di pikirannya.


"Kenapa lihat-lihat? Mau ngajak ke sana?" tantang Didik yang sudah paham kode Dika.

"Ya, ayo. Tuh si bro Toni nanti ngompol nggak?" Dika tertawa melihat raut wajah Toni yang mulai memucat.

"Apaan sih? Ini sudah mau jam 03.00 pagi. Nggak usah aneh-aneh deh! Lagi pula masih gerimis kan." Toni selalu mempunyai alasan untuk menyelamatkan diri dari tingkah laku kedua sahabatnya.

"Alasan aja! Ke sana aja, yuk. Hitung-hitung uji nyali di awal tahun," kata Didik sambil bangkit berdiri. Dia mengambil jaket yang diletakan di kursi lalu memakainya.

"Ayo, siapa takut!" Dika pun berdiri dan menuju kamar mengambil jaket lalu memakainya. Udara memang sangat dingin terlebih masih ada hujan rintik-rintik sisa badai beberapa jam yang lalu.

"Kenapa sih kalian iseng mulu? Terpaksa deh ikut daripada ditinggal sendirian," gerutu Toni sambil mengenakan baju hangatnya dan mengenakan hoodie.


Mereka bertiga sengaja memakai mantol celana dan baju agar lebih muda bergerak. Tak lupa sandal jepit dipakai, mereka berjalan beriringan dengan bantuan penerangan lewat senter. Semakin terasa dingin di luar. Tubuh mereka pun menggigil.


"Sudah kubilang ini ide buruk. Dingin banget jam tiga jalan di tengah hujan. Lama-lama kalian kurang waras ya," gumam Toni dengan bersungut-sungut.

"Sst ... jangan gerutu aja. Jam segini pas gerbang dunia lain terbuka, loh," bisik Didik ke Toni yang berjalan di belakangnya.


Sedangkan Dika berada di belakang Toni. Seperti biasa, Toni di tengah. Mereka sudah hafal kebiasaan Toni.

Sesampainya di rumah kosong yang gelap, mereka terhenti karena suara rintihan minta tolong terdengar. Didik menengok ke arah Toni dan Dika pun saling pandang. Mereka perlahan ke arah samping rumah dan mengintip asal suara dari sela-sela lubang di jendela.


"Toni, Dika, nggak beres nih. Itu wanita orang apa hantu? Kok kakinya di pasung?" bisik Didik yang pertama kali melihat ke lubang jendela.

"Hlo, kalo itu orang deh. Hantu mana ada di pasung kakinya," sahut Toni yanh memberanikan diri mengintip juga.

"Duh, kita lapor ke Pak Kades dulu aja. Itu sepertinya orang deh. Kakinya di pasung jadi nggak bisa keluar rumah," imbuh Dika meyakinkan.

"Nggak, Mas. Itu orang sudah mati karena nggak ditolong sama Pak Aris tempo lalu."

"Hlo, kok tahu?" tanya ketiga sekawan itu serentak sambil menengok ke kanan, arah suara.

"Tahu lah, Mas. Saya kan arwahnya itu orang. Hi hi hi hi ...."


Sosok mengerikan itu terbang melayang ke atas rumah kosong. Seketika Didik, Toni, dan Dika kehilangan kesadarannya alias semaput. Baru kali ini mereka bertemu dengan sosok makhluk gaib dan berada tepat di depan mata.



***



Berita terbaru, seorang wanita ditemukan meninggal dengan kondisi kaki dipasung dalam rumah kosong, Kampung Seruni. Laporan dari tiga pemuda yang sempat pingsan semalaman di depan bangunan kosong itu membuat pihak kepolisian turun tangan. Polisi masih menyelidiki kasus tersebut dan dikaitkan dengan penemuan mayat sebelumnya di sana beberapa minggu lalu. Penyelidikan ini mengarah ke penculikan, pencabulan, serta pembunuhan karena ditemukan bukti kekerasan fisik serta hasil otopsi yang mengarah ke pencabulan. Sekian berita lokal terkini. Radio HaluLovers FM

Tidak ada komentar:

Posting Komentar