Selasa, 04 Agustus 2020

TERSESAT DI HUTAN

Seandainya aku menurut kata pemandu, pasti tak akan tersesat di hutan ini. Matahari sudah mulai turun dari tahta tertingginya. Angin sore berembus perlahan menerpa rambutku. Kaki ini melangkah semakin cepat menyusuri hutan, berharap lekas bertemu rombongan lainnya.

Nasib baik kadang tak berpihak pada diriku. Air minum di botol sudah habis dan belum kutemukan teman-teman serombongan. Bukan hanya soal takut tak bisa makan atau minum, berada di hutan ini sendirian menjadi sangat mengerikan bagiku. Terlebih setelah senja tiba.

Aku bukan pecinta alam liar atau seorang lulusan pramuka terbaik, bukan! Ikut berwisata di hutan ini pun karena rengekan Zee yang terus memintaku ikut.

"Ayolah Thom ... ikut wisata ke Gunung Fujiyama pasti menyenangkan. Sudah sampai di sini kalau tidak ke sana kurang mengasyikan," kata Zee waktu itu.

Aku menyesali kenapa tadi tertarik melihat perbatasan hutan hingga terperosok di semak-semak. Semoga saja pemandu sadar kalau aku menghilang. Pikiranku pun bertanya-tanya, entah Zee mencariku atau tidak. Aku hanya berusaha mencari jalan keluar dari hutan yang menakutkan ini.

Ternyata sore di dalam hutan sangat hening dan mencekam. Terlebih kesunyian ini mengusik batinku. Aku tidak suka sepu dan sendirian. Ini membuatku berpikir hal-hal yang mengerikan. Bagaimana jika sampai malam aku belum bertemu dengan rombongan wisata? Bagaimana jika mereka tak sadar aku tersesat? Bagaimana kalau Zee justru mengira aku pulang lebih dahulu ke hotel? Berapa lama aku akan di dalam hutan ini sendirian? Pertanyaan itu berputar-putar di otak dan membuatku semakin ketakutan.

Kenapa aku sangat bodoh? Harusnya saat terperosok tadi aku langsung berteriak dan menunggu mereka menolong. Bukannya malah panik berlari karena ulat bulu menempel di dahiku. Hal itu membuatku semakin jauh tersesat. Sial!

Suara jangkrik pun mulai terdengar, pertanda hari makin gelap. Aku mencari senter di dalam tasku. Sejak tadi ponsel pun tak ada jaringan sama sekali. Karena kandungan batu-batuan gunung membuat sinyal tak sampai di sini, kata pemandu tadi saat memulai perjalanan wisata.

Aku makin frustasi dan berteriak-teriak, berharap ada seseorang yang mendengarku. Beberapa kali aku duduk dan berdoa, meminta ampun pada Tuhan jika ada salah dan berharap bisa segera menemukan jalan keluar.

Sayup-sayup terdengar dari kejauhan, suara bergema dari beberapa orang. Aku bergegas berlari ke arah itu.

"Thom ... Thom ... Thom ...."

Teriakan itu bergema karena suasana hutan yang makin sepi. Sekuat tenaga aku berlari ke arah cahaya yang terlihat semakin dekat. Pintu keluar! Aku melihatnya, itu perbatasan wilayah jalan masuk ke kaki Gunung Fuji dan Hutan Aokigahara.

"Zee! Hei, teman-teman! Aku di sini!"

Aku pun berteriak, berharap mereka dengar suaraku. Saat sinar itu makin jelas, terang, dan menyilaukan mataku. Aku tersadar di hadapanku hanya ada semak-semak.


***


Berita terkini, seorang wisatawan asal Amerika bernama Thomas ditemukan meninggal di Hutan Aokigahara. Kondisi korban sangat mengenaskan dan berada di dalam semak-semak berduri sehingga sulit dievakuasi. Menurut penyelidikan petugas, sudah seminggu turis itu dinyatakan hilang saat berwisata ke Gunung Fuji bersama rombongan wisatawan lainnya. Seorang yang melaporkan hilangnya Thomas adalah mantan istrinya yang bernama Zee. Mereka ikut rombongan kantor untuk wisata ke Jepang karena bekerja di tempat yang sama. Kasus ini masih dalam penyelidikan lebih lanjut. Sekian berita terkini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar