Selasa, 04 Agustus 2020

Jodoh, Sehidup Semati

Dua puluh bulan berlalu begitu cepat. Semenjak aku berpisah dengan Evan, entah mengapa berat badanku semakin melonjak. Mungkin benar kata orang, "Depresi bisa memicu napsu makan atau sama sekali tidak lapar. Kamu harus ke dokter."

Sebenarnya, aku masih mencintai Evan. Namun dia terlalu posesif dan sering berlaku seperti psikopat. Aku takut. Tak ingin hidup dalam kengerian, aku pun bertekad tidak kembali padanya lagi.

Sore ini aku pergi ke sebuah klinik, konsultasi kepada dokter. Tubuhku sudah masuk dalam kategori obesitas. Aku harap ada jalan keluar.


"Nama?"

"Vina, dokter."

"Usia?".

"25 tahun."

"Pekerjaan sehari-hari?"

"Berdagang, dokter. Aku buka toko pakaian dan tas."

"Apakah ada keluhan seputar kesehatan?"

"Berat badanku terus bertambah, Dok. Meskipun berdiet hingga puasa, tetap bertambah. Sekarang sudah tiga digit," aku mulai menunduk melihat kaki dan tanganku yang membengkak karena gemuk.

"Baik, kalau begitu maukah ikut kelas diet praktis?"


Begitulah saran dokter yang akhirnya kulakukan. Beberapa kali Evan menghubungiku. Puluhan misscall dan pesan dia kirim ke handphoneku. Namun, hal itu tetap kuabaikan.

[ Vina, gimana kabarmu? ]

[ Vina, aku rindu kamu. ]

[ Vina, please balas. ]


Awalnya hanya kalimat biasa, tapi lama kelamaan mulai menyeramkan. Evan seperti tak terkendali. Mengirim pesan sampai ratusan kali. Satu pesan yang sangat menakutkan teringat jelas di benakku.


[ Oke, Vin. Kalau kamu keras kepala. Kamu hanya bisa sembuh jika bertemu denganku! Percuma ikut kelas diet atau puasa. PERCUMA! Kalau kamu tidak menemuiku sekarang, besok kamu tak akan bisa berjalan dengan kondisi tubuh bundarmu! ]


Apakah ini hanya ancaman? Atau prank? Namun, sesak tubuhku terasa semakin menjadi. Sebenarnya apa yang terjadi padaku? Kedua kaki mulai menggelembung dan tak bisa ditapakan ke lantai. Aku menyerah! Aku bergegas meraih gawaiku dan menelpon Evan.


"E-Evan ...."

"Hallo? Vina? Vin, kamu berada di mana? Aku segera ke sana."

"Aku di Apartemen Mawar nomer 313. Evan, sebenarnya apa yang terjadi? Kakiku menggelembung."

"Sudah. Jangan bergerak. Aku akan segera sampai sana."


Evan menutup percakapan dan aku meletakkan gawai di meja. Tanganku juga mulai menggelembung. Tubuhku bagai balon yang ditiup kencang, sudah penuh, tetapi terus mengembang.

Beberapa saat kemudian, aku tak ingat apa yang terjadi. Mungkin aku ketiduran. Namun, saat mata ini terbuka ... aku melihat sekeliling, banyak orang berkumpul sambil memakai masker atau menutupi hidung mereka. Aku menyibakkan keramaian demi melihat apa yang menarik perhatian mereka.

Betapa terkejutnya aku. Mata ini melihat darah di mana-mana. Beberapa potongan tubuh yang terkoyak bagaikan korban bom bunuh diri. Seketika tubuhku terasa ringan. Entah karena ingin pingsan, atau karena tersadar jika potongan tubuh itu milikku. Aku? Sudah meninggal!


"Maafkan aku, Vina. Harusnya kamu kembali padaku, sebelum nasib buruk menimpamu. Aku sengaja mengikatmu hanya berjodoh denganku. Waktu kita hanya dua tahun untuk kembali bersama. Kalau tidak, kamu makin gemuk dan meledak layaknya balon sedangkan aku makin kurus dan tersedot dalam tulangku sendiri. Tak kusangka mantra hitam ini benar menyatukan kita walau di alam baka." ucap Evan di sampingku.


Aku tak percaya dengan perkataan Evan. Namun saat melihat Evan juga meninggal mengenaskan di depan pintu apartemen kamarku, aku pun sadar. Jodoh itu memang sehidup semati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar