Aku baru saja melahirkan bayi mungil perempuan. Sebenarnya ini anak ketigaku, tetapi karena kedua anak lelakiku meninggal sebelum usia lima tahun, bayi ini menjadi satu-satunya anakku. Sebelumnya aku tinggal disebuah desa daerah Temanggung, Jawa Tengah. Karena banyak kenangan pahit, meninggalnya kedua anak lelakiku, aku dan suami memutuskan tinggal di Magelang.
Saat itu kami tinggal disebuah rumah dekat pusat kota. Keadaan saat itu jauh berbeda dengan sekarang. Jalan utama masih tanah belum diaspal. Banyak pohon aren, jambu, duren, bahkan beberapa bambu tumbuh lebat di sekitar sana.
Baru beberapa hari tinggal di sana, suamiku sering bekerja ke luar kota entah ke Semarang atau ke Temanggung untuk mengais rejeki. Aku tinggal sendirian dan memberanikan diri di rumah yang baru saja kami tinggali. Sejak awal memang rasanya aneh di sini. Tetapi tidak ada pilihan lain untuk tinggal.
Sore itu pengalaman pertama di sana. Aku hendak ke kamar mandi, bayiku di kamar tertidur. Saat akan membuka pintu kamar mandi, ada sesosok lelaki dengan kemeja putih lengan panjang dan celana panjang warna hitam. Aku terkejut hampir saja terjatuh. Sosok itu menabrakku dan tembus begitu saja. Bagian sebelah kiri wajahnya bercucuran darah segar. Seketika aku tersadar bahwa itu bukan orang.
Aku gemetaran. Tidak jadi ke kamar mandi dan langsung balik ke kamar menunggu bayiku. Rasanya jantungku hendak copot. Berdetak tak karuan. Waktu itu jangankan handphone, telepon rumah belum ada ataupun masih jarang. Hari itu aku masih tak sadar ada kehidupan lain di rumah itu.
Beberapa hari kemudian, pagi hari suamiku bertanya, "Ma... ini Papa mau pergi ke Semarang."
"Iya, Pa. Hati-hati di jalan ya," aku pun mencium punggung tangan suamiku.
Melambaikan tangan ketika suamiku pergi menggunakan GL-Pro miliknya. Motor yang suaranya cukup nyaring itu mulai menghilang di kejauhan. Pagi itu, rasanya tak ingin melepas suami pergi bekerja. Tetapi kebutuhan yang membludak membuatku tak ingin bermanja, apalagi takut pada suatu yang tak kasat mata. Aku harus berani demi bayi mungilku tercukupi kebutuhannya.
"Nina bobo... oh nina bobo... kalau tidak bobo digigit nyamuk..." lirihku bernyanyi sambil menimang bayi mungil yang sedari tadi menangis.
Bukannya tenang, malah makin menjerit. Bayiku seakan ketakutan. Entah karena melihat sesuatu atau hawa panas yang seketika menyeruak di rumah. Aku bawa bayiku ke depan rumah.
"Kenapa Mbak si dedek?" tanya tetanggaku
"Rewel ini... dari tadi nangis terus," jawabku sambil menimang si bayi.
"Takut paling, Mbak. Bapaknya pergi keluar kota lagi kah?"
"Iya, Bu. Baru aja berangkat. Moga aja nanti pulang. Biasanya nginep di Paman karena perjalanan jauh kasihan mondar mandir."
"Duh, kok ya sering nggak nemeni di rumah ya."
"Gimana lagi, Bu. Namanya mencari rejeki."
Mendengar percakapanku dengan tetangga ternyata membuat bayiku tenang. Lambat-lambat tangisnya reda dan tertidur. Aku pun pamit masuk ke rumah. Meletakkan anakku di kasur. Lalu menyelesaikan pekerjaan rumah.
Pagi itu waktu terasa cepat. Bayiku tertidur pulas selama dua jam. Aku sudah selesai memasak, menyuci piring dan baju, serta membersihkan rumah. Baru saja hendak makan, bayiku menangis.
Aku pun meletakkan piring berisi nasi dan tempe garit serta oseng pare. Belum jadi sesuap pun masuk ke mulutku. Aku kembali menimang putri kecilku lalu menyusuinya.
***
Sepertinya
suamiku tak pulang. Senja pun datang membawa angin malam nan dingin.
Aku bergegas menutup dan mengunci pintu belakang, pintu depan dan
jendela. Sudah menjadi kebiasaan di sini, sebelum maghrib tiba baiknya
semua orang di dalam rumah dan mengunci rumahnya. Maklum saja tahun 1985
masih sepi dan minim penerangan serta banyak kejahatan dimana-mana.
Aku pun tiduran di samping bayiku. Dia tidur pulas. Aku pun tak sengaja ikut tertidur. Saat bangun, aku haus dan pergi ke dapur ambil minum putih di kendi. Saat berbalik, aku terkejut suamiku ada di belakangku.
"Loh, Pa, kapan yang pulang?"
"Barusan."
"Yaampun bikin kaget aja."
"Ma, kerokin ya."
Entah mengapa suamiku sangat dingin berkata-kata tak seperti biasanya. Dia pun pandangan lurus ke depan.
Seketika bayiku menangis kencang. Aku bergegas hendak ke kamar. Namun suamiku memegang tanganku.
"Ma, kerokin dulu badanku."
Saat itu langsung aku berpikir aneh. Suamiku yang kukenal pasti akan khawatir ketika bayi kami menangis. Terlebih jika dari bekerja, dia selalu menengok anak kamj terlebih dahulu.
Aku pun teringat pintu depan sudah kukunci. Suara motor suamiku pun tak terdengar. Aku melepaskan tanganya dan berjalan ke depan menengok motor dan sandal suamiku apakah ada.
Betapa kaget diriku ini, pintu masih terkunci. Dari jendela tak terlihat GL-PRo miliknya bahkan sandalnya pun tak ada. Aku kembali ke dapur memastikan apakah sosok itu suamiku atau bukan.
Dia masih di sana dan berbalik meilihatku. Aku menengok ke arah kakinya yang ternyata tak ada! Seketika tubuhnya berubah menjadi besar dan membesar. Tangannya berbulu lebat dan jari jemarinya besar. Aku tak bisa melihat wajahnya karena gelap merenggut kesadaranku alias aku pingsan!
Pagi harinya aku terbangun karena tetangga menggosokkan minyak angin ke hidungku dan kaki berkali-kali. Semalaman bayiku menangis dan membuat Bu Dina curiga. Beliau meminta suaminya untuk mendobrak pintu pada tengah malam dan mendapati aku pingsan di dapur sedangkan bayiku menangis di kamar.
Aku pun bingung dan ketakutan. Bu Dina memberiku segelas air putih untuk menenangkan diri.
"Sabar ya, Mbak. Tenangkan diri dulu. Tadi malam si dedek diberi minum tajin biar nggak lapar," kata Bu Dina sambil mengelus punggungku.
Aku pun menceritakan semuanya ke Bu Dina. Beliau tidak kaget karena sudah tahu makhluk apa yang menghuni pohon belakang rumah ini. Beliau hanya berpesan sering-seringlah berdoa agar dijauhkan dari gangguan makhluk gaib.
Aku pun mengangguk paham. Bu Dina menemaniku sampai suamiku pulang siang harinya. Beliau pun menjelaskan kejadian yang dialami aku kepada suamiku. Memang suamiku orang yang mengedepankan logika. Dia tidak mudah percaya soal makhluk gaib apa lagi dengan kejadian yang kualami. Dia dengan mudah mengira aku berhalusinasi atau justru bermimpi. Menyebalkan, bukan?
Aku pun tiduran di samping bayiku. Dia tidur pulas. Aku pun tak sengaja ikut tertidur. Saat bangun, aku haus dan pergi ke dapur ambil minum putih di kendi. Saat berbalik, aku terkejut suamiku ada di belakangku.
"Loh, Pa, kapan yang pulang?"
"Barusan."
"Yaampun bikin kaget aja."
"Ma, kerokin ya."
Entah mengapa suamiku sangat dingin berkata-kata tak seperti biasanya. Dia pun pandangan lurus ke depan.
Seketika bayiku menangis kencang. Aku bergegas hendak ke kamar. Namun suamiku memegang tanganku.
"Ma, kerokin dulu badanku."
Saat itu langsung aku berpikir aneh. Suamiku yang kukenal pasti akan khawatir ketika bayi kami menangis. Terlebih jika dari bekerja, dia selalu menengok anak kamj terlebih dahulu.
Aku pun teringat pintu depan sudah kukunci. Suara motor suamiku pun tak terdengar. Aku melepaskan tanganya dan berjalan ke depan menengok motor dan sandal suamiku apakah ada.
Betapa kaget diriku ini, pintu masih terkunci. Dari jendela tak terlihat GL-PRo miliknya bahkan sandalnya pun tak ada. Aku kembali ke dapur memastikan apakah sosok itu suamiku atau bukan.
Dia masih di sana dan berbalik meilihatku. Aku menengok ke arah kakinya yang ternyata tak ada! Seketika tubuhnya berubah menjadi besar dan membesar. Tangannya berbulu lebat dan jari jemarinya besar. Aku tak bisa melihat wajahnya karena gelap merenggut kesadaranku alias aku pingsan!
Pagi harinya aku terbangun karena tetangga menggosokkan minyak angin ke hidungku dan kaki berkali-kali. Semalaman bayiku menangis dan membuat Bu Dina curiga. Beliau meminta suaminya untuk mendobrak pintu pada tengah malam dan mendapati aku pingsan di dapur sedangkan bayiku menangis di kamar.
Aku pun bingung dan ketakutan. Bu Dina memberiku segelas air putih untuk menenangkan diri.
"Sabar ya, Mbak. Tenangkan diri dulu. Tadi malam si dedek diberi minum tajin biar nggak lapar," kata Bu Dina sambil mengelus punggungku.
Aku pun menceritakan semuanya ke Bu Dina. Beliau tidak kaget karena sudah tahu makhluk apa yang menghuni pohon belakang rumah ini. Beliau hanya berpesan sering-seringlah berdoa agar dijauhkan dari gangguan makhluk gaib.
Aku pun mengangguk paham. Bu Dina menemaniku sampai suamiku pulang siang harinya. Beliau pun menjelaskan kejadian yang dialami aku kepada suamiku. Memang suamiku orang yang mengedepankan logika. Dia tidak mudah percaya soal makhluk gaib apa lagi dengan kejadian yang kualami. Dia dengan mudah mengira aku berhalusinasi atau justru bermimpi. Menyebalkan, bukan?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar