Jam merupakan benda yang amat penting
bagi aktivitas harian orang-orang. Jika tidak ada jam, maka seseorang
tidak akan bisa menjalankan aktivitasnya secara teratur dan tepat waktu.
Tidak mengherankan jika kemudian jam memiliki perjalanan sejarah yang
amat panjang seiring dengan perjalanan sejarah manusia. Berikut ini
adalah 5 fakta menarik seputar jam yang mungkin belum anda tahu.
Ada Jam Kukuk yang Lebih Besar dari Manusia

Jam
kukuk (cuckoo clock) adalah sebutan untuk jam yang akan mengeluarkan
patung burung kecil secara otomatis pada waktu-waktu tertentu. Meskipun
jam kukuk bukanlah jam yang lazim ditemui di Indonesia, jam ini tetaplah
bukan jam yang asing bagi kita karena jam ini kerap muncul dalam
film-film buatan luar negeri.
Jam
kukuk normalnya berukuran kecil supaya jam ini bisa dipasang di dinding
dan bandul di bawahnya bisa berayun bebas. Sementara burung kecil yang
menjadi ciri khas jam ini memiliki bobot yang ringan supaya mudah keluar
masuk.
Namun hal
tersebut berlaku untuk jam kukuk yang satu ini. Sebabnya adalah karena
jam ini memiliki ukuran yang amat besar. Bayangkan saja, burung kukuk
pada jam ini beratnya mencapai 149 kilogram, sementara jamnya sendiri
berukuran 60 kali lebih besar dibandingkan jam kukuk biasa.
Ukurannya tersebut sekaligus menjadikan jam kukuk raksasa ini nampak seperti rumah sungguhan. Jika anda merasa tertarik untuk melihat jam kukuk raksasa ini, anda bisa berkunjung ke Triberg, Jerman.
Ukurannya tersebut sekaligus menjadikan jam kukuk raksasa ini nampak seperti rumah sungguhan. Jika anda merasa tertarik untuk melihat jam kukuk raksasa ini, anda bisa berkunjung ke Triberg, Jerman.
Jam Ini Membangungkan Pemiliknya Memakai Aroma Kopi

Bagi
banyak orang, jam weker merupakan benda yang membantu sekaligus
menjengkelkan. Membantu karena jam ini membuat banyak orang di berbagai
belahan dunia bisa terbangun tepat waktu. Namun jam ini juga dipandang
sebagai benda yang menjengkelkan karena saat sedang nikamt-nikmatnya
menikmati tidur, tiba-tiba saja ada suara keras yang membuat pemiliknya
mau tidak mau harus bangun.
Lantas, adakah cara untuk membuat jam weker bisa membangunkan pemiliknya tanpa membuatnya merasa jengkel? Mahasiswa asal Perancis ini nampaknya memiliki jawabannya. Pada tahun 2016, ia menciptakan jam weker yang bisa mengeluarkan aneka macam aroma seperti roti croissant, cokelat, peppermint, hingga kopi.
Oleh
penciptanya, jam weker dengan konsep ini diberi nama Sensorwake.
Harapannya adalah jika pemiliknya mencium bau makanan atau minuman
kesukannya pada pagi hari, maka pemiliknya akan merasa lebih nyaman saat
bangun.
Efektifitas bau
dalam membangunkan seseorang sendiri sebenarnya masih diperdebatkan.
Saat ilmuwan melakukan percobaan untuk membandingkan mana yang lebih
efektif antara bau dan suara dalam membangunkan seseorang, ternyata bau
cenderung lebih sering gagal dalam membangunkan seseorang
.
Pencipta
Sensorwake sendiri sadar akan keterbatasan bau dalam membangunkan
seseorang. Itulah sebabnya selain menggunakan bau, ia juga melengkapi
jam weker buatannya dengan perangkat suara. Jadi jika orang tersebut
masih belum bangun saat bau keluar dari jam wekernya, 3 menit kemudian
jam weker tersebut akan berbunyi.
Jam Tertua di Dunia yang Masih Beroperasi Hingga Sekarang

Di masa kini, jam umumnya memiliki
ukuran yang kecil. Namun tidak demikian halnya jika kita mundur hingga
ratusan tahun yang lalu. Pasalnya jam pada masa itu memiliki ukuran yang
besar dan memerlukan perawatan khusus sehingga tidak semua tempat
memiliki jam.
Katedral
Salisbury yang terletak di Inggris adalah satu dari sedikit tempat di
Abad Pertengahan yang memiliki jamnya sendiri. Gereja tersebut pertama
kali memiliki jam pada tahun 1386. Hebatnya, jam tersebut masih
beroperasi hingga sekarang sehingga jam di Katedral Salisbury kini
menyandang rekor sebagai jam tertua di dunia yang masih beroperasi.
Jam
Katedral Salisbury beroperasi dengan memakai jalinan roda gigi dan tali
panjang yang dilengkapi dengan pemberat. Setiap pagi, tali tersebut
akan menarik pemberat hingga ke atas. Kemudian sesudah itu, pemberatnya
secara perlahan akan turun kembali ke bawah secara otomatis.
Jam
Katedral Salisbury ini memang memiliki cara kerja yang lebih sederhana
jika dibandingkan dengan jam modern. Waktu yang ditampilkan jam ini juga
tidak sepenuhnya akurat. Namun untuk masanya, jam ini tergolong sebagai
terobosan di bidang teknologi. Jam ini juga membantu warga lokal untuk
mengetahui apakah sudah waktunya mereka harus makan siang, pergi ke
gereja, dan lain sebagainya.
Seperti
halnya mesin dan peralatan di masa modern, ada waktunya komponen di jam
ini harus diganti. Pada tahun 1950-an, sejumlah komponen di jam ini
sempat diganti dengan komponen yang lebih baru supaya jam ini tetap bisa
beroperasi.
Jam di Era Kuno Menggunakan Air Sebagai Penggeraknya

Di masa kini, jam menggunakan
jalinan komponen mesin yang rumit. Karena teknologi manusia pada masa
lampau masih belum cukup canggih untuk menciptakan mesin serumit jam,
mereka pun harus menggunakan cara lain untuk mengetahui waktu supaya
bisa melakukan aktivitas hariannya tepat waktu.
Pada awalnya, manusia menggunakan
jam matahari sebagai cara untuk mengetahui waktu. Dengan melihat
bayangan yang tercipta pada jam matahari, seseorang bisa mengetahui
waktu pada momen tersebut. Namun karena jam matahari mengandalkan
bayangan dari sinar matahari sebagai penanda waktunya, jam ini menjadi
tidak berguna pada malam hari atau ketika hari sedang mendung.
Untuk mengatasinya, manusia pun
menciptakan jam yang terbuat dari air sebagai penggeraknya. Keberadaan
jam air konon sudah dikenal sejak abad ke-15 SM di Mesir Kuno. Apa yang
disebut sebagai jam air pada dasarnya adalah sejenis corong yang bagian
bawahnya sudah dilubangi supaya air bisa menetes keluar sedikit demi
sedikit.
Bagian tepi corong
tersebut dilengkapi dengan semacam skala untuk menandai waktu. Dengan
melihat posisi ketinggian air pada corong, seseorang bisa mengetahui
waktu pada momen tersebut.
Dalam
perkembangannya, desain jam air semakin lama menjadi semakin rumit.
Namun saat manusia sudah bisa menciptakan jam yang terbuat dari mesin,
keberadaan jam air secara berangsur-angsur kemudian ditinggalkan
Perancis Pernah Mengubah Satu Hari Menjadi 10 Jam

Dalam
standar waktu versi Revolusi Perancis, 1 hari bakal terdiri dari 10 jam
di mana 1 jam terdiri dari 100 menit, sementara 1 menit terdiri dari
100 detik. Dampaknya, jam yang digunakan di Perancis pada periode
tersebut pun sempat mengalami perubahan. Alih-alih menampilkan angka 1
sampai 12, jam versi standar waktu baru ini hanya menampilkan angka 1
hingga 10.
Di masa sekarang,
kita mengenal satu hari sebagai 24 jam. Itulah sebabnya jam dibuat
dengan memiliki 12 angka sebagai penanda waktunya. Namun di tahun 1793,
Perancis pernah mencoba menghilangkan tradisi tersebut dan menggantinya
dengan standar waktu versi mereka. Standar waktu versi baru ini juga
dikenal dengan sebutan Waktu Revolusi Perancis.
Dalam
standar waktu versi Revolusi Perancis, 1 hari bakal terdiri dari 10 jam
di mana 1 jam terdiri dari 100 menit, sementara 1 menit terdiri dari
100 detik. Dampaknya, jam yang digunakan di Perancis pada periode
tersebut pun sempat mengalami perubahan. Alih-alih menampilkan angka 1
sampai 12, jam versi standar waktu baru ini hanya menampilkan angka 1
hingga 10.
Di masa sekarang,
kita mengenal satu hari sebagai 24 jam. Itulah sebabnya jam dibuat
dengan memiliki 12 angka sebagai penanda waktunya. Namun di tahun 1793,
Perancis pernah mencoba menghilangkan tradisi tersebut dan menggantinya
dengan standar waktu versi mereka. Standar waktu versi baru ini juga
dikenal dengan sebutan Waktu Revolusi Perancis.
Kendala
lainnya adalah standar waktu yang baru ini mengharuskan orang-orang
untuk menggunakan jam versi baru. Padahal mengganti setiap jam yang ada
di seantero Perancis bukanlah perkara mudah. Sebagai akibatnya, pada
tahun 1795 kebijakan standar waktu versi baru ini ditinggalkan dan
rakyat Perancis kembali menggunakan sistem waktu yang lama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar