Vira menjalani hari-hari yang menyedihkan setelah menikah siri dengan
Didik karena hamil. Saat pacaran Didik memang lelaki yang perhatian,
tetapi jika cemburu atau amanrahnya muncul tak segan-segan dia melakukan
kekerasan kepada Vira.
Kali ini sifat buruknya makin menjadi karena kesusahan ekonomi. Semenjak
hamil Vira harus keluar dari tempatnya bekerja. Lalu tinggal bersama
Didik di dalam kontrakan sederhana yang berderet banyak. Didik tak bisa
setiap hari bersama Vira karena istri pertamanya belum mau dicerai dan
selalu menghindar saat membahas tentang kehamilan Vira.
Sore itu, Didik seperti kesetanan saat berdebat dengan Vira. Hantaman
demi hantaman dilayangkan pada wanita hamil lima bulan itu. Sekuat
tenaga Vira menutupi perutnya agar tidak terkena amukan Didik. Vira
menangis. Berteriak. Membuat penghuni kontrakan keluar dan mencoba
melerai meski akhirnya Didik pergi begitu saja.
Vira masih menangis sesenggukan dan beberapa tetangganya membantu mengobati luka lebam di wajah dan lengan Vira.
"Astafirullah, Mbak. Lukanya sampai biru-biru gini. Mbak nggak coba
visum aja? Laporin aja ke polisi," ucap Bu Risma tetangga Vira.
"Terima kasih sudah mengobatiku, Bu. Maaf, urusan ini personal. Aku
nggak mau laporin Mas Didik. Mungkin dia sedang banyak pikiran." jawab
Vira membela suaminya.
"Dek, kalau lelaki seperti itu susah tobatnya. Kalau suka mukul bisa
jadi kebiasaan. Kasihan ini jabang bayimu denger kalian bertengkar dan
kamu dipukuli hampir tiap hari. Coba rundingan sama keluargamu biar
dilaporkan," kata Bu Narmi menimbali perkataan Bu Risma.
Vira hanya mengucapkan terima kasih dan maaf tanpa memikirkan melakukan
hal itu. Sejak Vira hamil, dia bagaikan dibuang oleh keluarganya. Hanya
Didik satu-satunya yang peduli pada Vira walau sering kasar.
Sore pun berganti malam. Hujan deras mengguyur Kota Yogyakarta. Vira
yang kesakitan dan lemas, masih harus menderita karena lapar. Sejak pagi
tadi dia belum makan karena Didik datang dengan marah-marah. Tak juga
dia membawa makanan atau meninggalkan uang sepeserpun. Sama sekali tak
bertanggung jawab penuh. Padahal tabungan Vira sudah habis karena
dipakai untuk makan sehari-hari selama di sana.
"Maaf ya, Dek. Mama juga lapar. Tapi nggak ada apa-apa di sini kecuali
teh manis ini." kata Vira mengusap perutnya yang bundar dan menyeduh teh
celup yang tinggal satu kantong.
Tiba-tiba ada suara ketukan pintu di tengah hujan. Vira mengira salah
dengar atau ketukannya berasal dari kontrakan sebelah. Namun saat suara
seorang lelaki terdengar, "Permisi. Ini pesanannya."
Vira pun berdiri dan membukakan pintu. "Maaf cari siapa, Pak?" tanya Vira pada lelaki pengantar makanan via online tersebut.
"Ini betul dengan Mbak Vira?"
"Ya, betul."
"Ini pesanan makanan untuk Mbak Vira dari Nina. Mohon diterima ya."
"Nina siapa, Pak? Kok nggak kenal ya?"
"Kurang tahu, Mbak. Tapi alamat dan petunjuk serta namanya sudah sesuai.
Ini ya Mbak. Terima kasih dan selamat malam," kata Pak pengantar
makanan online itu berlalu pergi dengan wajah pucat.
Vira mengira mungkin Didik yang memesankannya makanan. Dia pun tak
berpikir mengapa bapak itu pucat dan terburu-buru. Mungkin karena hujan.
Vira pun berdoa lalu menyantap makanan nasi ayam geprek keju yang berada
di sterefoam itu. Setelah kenyang, Vira tertidur nyenyak.
Dalam tidur, antara sadar atau mimpi, Vira mendengar suara tangisan.
Lalu suara orang melangkah perlahan mengelilingi kontrakannya. Vira tak
bisa bergerak. Mungkinkah ini yang dinamakan sleeping paralyzed?
Keesokan harinya ....
Didik datang dengan tanpa rasa bersalah. Dia pun mengajak Vira sarapan
soto kesukaannya. Vira pu bertanya soal pengantar makanan online itu.
Didik justru bingung dan tak mengerti. Mereka pun menyimpulkan mungkin
tetangga kontrakan yang memesankan untuk Vira karena khawatir.
Setelah sarapan, Didik mengatar Vira kembali ke kontrakan lalu
meninggalkannya untuk bekerja. Vira mencuci baju lalu menjemurnya.
Bertemu dengan Bu Risma yangnjuga sedang menjemur pakaian.
"Siang Bu Risma." sapa Vira dengan sopan.
"Siang juga Mbak. Rajin banget ya bumil cantik ini."
Mereka pun berbincang sangat akrab sampai Vira menanyakan soal nama
"Nina". Seketika Bu Risma terdiam dan permisi. Tak melanjutkan
percakapan mereka. Vira menjadi curiga.
Hari-hari berikutnya semakin mencekam bagi Vira. Hampir setiap malam
saat sendirian, dia mengalami tindian atau tak bisa bergerak antara
mimpi dan nyata. Hal itu membuatnya sangat takut dan bingung. Tentu saja
Didik tak percaya soal hal gaib dan sejenisnya.
Tak hanya sekali pengalaman pesanan makanan itu. Hingga kali ketiga,
Vira sungguh penasaran siapa yang baik hati memesankan makanan untuknya
bahkan tahu apa yang Vira sukai.
Siang harinya saat Vira bertemu dengan Bu Narmi soal pesanan makanan
online tersebut. Bu Narmi menunjukkan reaksi yang sama dengan Bu Risma.
Terdiam dan mencoba menghindar.
"Bu, ada apa sebenarnya? Tolong ceritakan saja. Please, Bu." Vira memohon.
Lalu Vira pun menimpali dengan cerita hampir setiap malam dia mendengar
wanita menangis serta ada yang memutari kontrakannya. Tak hanya itu,
soal tindihan juga Vira ceritakan agar Bu Narmi mengerti yang dirasakan
Vira.
"Baiklah Dek. Ibu ceritakan tapi jangan takut ya? Bukannya
menakut-nakuti tapi yang namanya Nina itu dulu ngontrak di tempat yang
saat ini kamu tempati." kata Bu Narmi sambil menengok kanan dan kiri
takut ada yang dengar karena hal ini harusnya dirahasiakan.
"Loh? Terus orangnya udah pindah gitu, Bu?" tanya Vira yang semakin penasaran.
"Bukan pindah. Jadi dia itu stress karena suaminya nggak mau tanggung
jawab soalnya dia nikah siri aja. Suaminya punya pacar lagi dan jarang
ke sini bahkan tidak kasih uang sampai nunggak bayar kontrakan.
Berhubung pemilik kontrakan kasihan sama Nina yang lagi hamil muda, dia
masih boleh di sini. Suatu malam, Nina nekat gantung diri di pohon yang
bekas ditebang itu loh. Sempat heboh beritanya. Akhirnya suami sirinya
makamin Nina di rumah asalnya. Sejak itu kontrakan bekas Nina kosong
hampir setahun. Biasanya sih nggak ganggu, cuma ada suara nangis aja
seperti Nina biasanya tiap malam nangisin suaminya. Terus Dek Vira
datang ngontrak sama suaminya. Baru deh itu kamar dipakai lagi." jelas
Bu Narmi membuat Vira merinding.
Siapa orang yang tak akan takut jika kontrakan yang ditempati bekas
orang yang akhirnya gantung diri di pohon depan kontrakan. Vira pun
ketakutan karena kemungkinan yang memesan makanan online adalah hantu.
Namun tidak menutup kemungkinan jika orang iseng atau menakut-nakuti
saja.
"Yaampun Bu kok serem banget. Kenapa Pak Tono tak bilang kalau kamar itu
kosong lama. Padahal suamiku sudah bayar di muka untuk setahun."
Setelah percakapan itu, Vira semakin tak enak hati. Takut dan paranoid.
Beberapa kali dia bilang ke Mas Didik tetapi berakhir dengan makian dan
segala kata kasar yang membuat hati Vira semakin sakit.
Vira tak bisa pindah dari tempat itu. Namun lama kelamaan menghadapi
sikap Didik membuatnya semakin terhimpit. Perut semakin membesar dan
sering mendapat kekerasan membuat Vira semakin tak bisa berpikir jernih.
Suatu malam saat Didik tidur di samping Vira, ada ketukan pintu dan Vira
segera membukanya. Seperti biasa ada pesanan online misterius untuk
Vira dari Nina. Setelah pak kurir pergi, Vira masuk dan membuka
bungkusan itu.
Vira terkejut bungkusan itu berisi makanan dan sebungkus racun tikus. Vira pun semakin gelap mata.
"Vir, ngapain buka pintu? Anginnya dingin sampai kamar nih!" kata Didik yang membuat Vira memiliki ide.
"Maaf, Mas. Ini ada kiriman makanan online lagi seperti yang aku
ceritakan. Aneh kan Mas." lirih Vira sambil menutup pintu dan jalan ke
kamar memperlihatkan bungkusan sterofoam berisi makanan.
"Halah paling orang iseng itu tu! Gitu aja takut. Sini kumakan aja.
Kebetulan laper," kata Didik sambil menyambar sekotak berisi nasi goreng
seafood.
Tanpa banyak bicara, Didik memakan nasi goreng itu dengan lahap. Vira
hanya menatapnya nanar. Hingga akhirnya Didik batuk-batuk dan merasa
lehernya sakit. Vira hanya diam melihatnya kesakitan.
"Vir, tolong Vir. Ini kenapa sakit banget. Tenggorokan panas." Didik
meminum beberapa gelas air putih tapi tenggorokannya tetap sakit dan
kemudian perutnya pun juga sakit.
Vira berdiri dan tersenyum. Didik menggelepar kesakitan dan keluar busa dari mulutnya. Penderitaan Vira berakhir malam itu.
"Terima kasih Nina, sudah membantuku agar tak bernasib sama denganmu,"
lirih Vira yang kemudian keluar kontrakan dan berteriak meminta bantuan.
Tetangga pun berdatangan dan coba membantu Didik yang akhirnya sudah tak
bernapas. Malam itu Vira bersedih karen sadar mengapa tak sedari dulu
dia membunuh sumber kesakitan di hidupnya.
Dari kejauhan, sosok Nina pun tersenyum menatap Vira dalam gelapnya malam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar