Selasa, 04 Agustus 2020

KISAH GENDERUWO

Kejadian sekitar tahun 1985....

Aku baru saja melahirkan bayi mungil perempuan. Sebenarnya ini anak ketigaku, tetapi karena kedua anak lelakiku meninggal sebelum usia lima tahun, bayi ini menjadi satu-satunya anakku. Sebelumnya aku tinggal disebuah desa daerah Temanggung, Jawa Tengah. Karena banyak kenangan pahit, meninggalnya kedua anak lelakiku, aku dan suami memutuskan tinggal di Magelang.

Saat itu kami tinggal disebuah rumah dekat pusat kota. Keadaan saat itu jauh berbeda dengan sekarang. Jalan utama masih tanah belum diaspal. Banyak pohon aren, jambu, duren, bahkan beberapa bambu tumbuh lebat di sekitar sana.

Baru beberapa hari tinggal di sana, suamiku sering bekerja ke luar kota entah ke Semarang atau ke Temanggung untuk mengais rejeki. Aku tinggal sendirian dan memberanikan diri di rumah yang baru saja kami tinggali. Sejak awal memang rasanya aneh di sini. Tetapi tidak ada pilihan lain untuk tinggal.

Sore itu pengalaman pertama di sana. Aku hendak ke kamar mandi, bayiku di kamar tertidur. Saat akan membuka pintu kamar mandi, ada sesosok lelaki dengan kemeja putih lengan panjang dan celana panjang warna hitam. Aku terkejut hampir saja terjatuh. Sosok itu menabrakku dan tembus begitu saja. Bagian sebelah kiri wajahnya bercucuran darah segar. Seketika aku tersadar bahwa itu bukan orang.

Aku gemetaran. Tidak jadi ke kamar mandi dan langsung balik ke kamar menunggu bayiku. Rasanya jantungku hendak copot. Berdetak tak karuan. Waktu itu jangankan handphone, telepon rumah belum ada ataupun masih jarang. Hari itu aku masih tak sadar ada kehidupan lain di rumah itu.

Beberapa hari kemudian, pagi hari suamiku bertanya, "Ma... ini Papa mau pergi ke Semarang."

"Iya, Pa. Hati-hati di jalan ya," aku pun mencium punggung tangan suamiku.

Melambaikan tangan ketika suamiku pergi menggunakan GL-Pro miliknya. Motor yang suaranya cukup nyaring itu mulai menghilang di kejauhan. Pagi itu, rasanya tak ingin melepas suami pergi bekerja. Tetapi kebutuhan yang membludak membuatku tak ingin bermanja, apalagi takut pada suatu yang tak kasat mata. Aku harus berani demi bayi mungilku tercukupi kebutuhannya.

"Nina bobo... oh nina bobo... kalau tidak bobo digigit nyamuk..." lirihku bernyanyi sambil menimang bayi mungil yang sedari tadi menangis.

Bukannya tenang, malah makin menjerit. Bayiku seakan ketakutan. Entah karena melihat sesuatu atau hawa panas yang seketika menyeruak di rumah. Aku bawa bayiku ke depan rumah.

"Kenapa Mbak si dedek?" tanya tetanggaku

"Rewel ini... dari tadi nangis terus," jawabku sambil menimang si bayi.

"Takut paling, Mbak. Bapaknya pergi keluar kota lagi kah?"

"Iya, Bu. Baru aja berangkat. Moga aja nanti pulang. Biasanya nginep di Paman karena perjalanan jauh kasihan mondar mandir."

"Duh, kok ya sering nggak nemeni di rumah ya."

"Gimana lagi, Bu. Namanya mencari rejeki."

Mendengar percakapanku dengan tetangga ternyata membuat bayiku tenang. Lambat-lambat tangisnya reda dan tertidur. Aku pun pamit masuk ke rumah. Meletakkan anakku di kasur. Lalu menyelesaikan pekerjaan rumah.

Pagi itu waktu terasa cepat. Bayiku tertidur pulas selama dua jam. Aku sudah selesai memasak, menyuci piring dan baju, serta membersihkan rumah. Baru saja hendak makan, bayiku menangis.

Aku pun meletakkan piring berisi nasi dan tempe garit serta oseng pare. Belum jadi sesuap pun masuk ke mulutku. Aku kembali menimang putri kecilku lalu menyusuinya.

***


Sepertinya suamiku tak pulang. Senja pun datang membawa angin malam nan dingin. Aku bergegas menutup dan mengunci pintu belakang, pintu depan dan jendela. Sudah menjadi kebiasaan di sini, sebelum maghrib tiba baiknya semua orang di dalam rumah dan mengunci rumahnya. Maklum saja tahun 1985 masih sepi dan minim penerangan serta banyak kejahatan dimana-mana.

Aku pun tiduran di samping bayiku. Dia tidur pulas. Aku pun tak sengaja ikut tertidur. Saat bangun, aku haus dan pergi ke dapur ambil minum putih di kendi. Saat berbalik, aku terkejut suamiku ada di belakangku.

"Loh, Pa, kapan yang pulang?"

"Barusan."

"Yaampun bikin kaget aja."

"Ma, kerokin ya."

Entah mengapa suamiku sangat dingin berkata-kata tak seperti biasanya. Dia pun pandangan lurus ke depan.

Seketika bayiku menangis kencang. Aku bergegas hendak ke kamar. Namun suamiku memegang tanganku.

"Ma, kerokin dulu badanku."

Saat itu langsung aku berpikir aneh. Suamiku yang kukenal pasti akan khawatir ketika bayi kami menangis. Terlebih jika dari bekerja, dia selalu menengok anak kamj terlebih dahulu.

Aku pun teringat pintu depan sudah kukunci. Suara motor suamiku pun tak terdengar. Aku melepaskan tanganya dan berjalan ke depan menengok motor dan sandal suamiku apakah ada.

Betapa kaget diriku ini, pintu masih terkunci. Dari jendela tak terlihat GL-PRo miliknya bahkan sandalnya pun tak ada. Aku kembali ke dapur memastikan apakah sosok itu suamiku atau bukan.

Dia masih di sana dan berbalik meilihatku. Aku menengok ke arah kakinya yang ternyata tak ada! Seketika tubuhnya berubah menjadi besar dan membesar. Tangannya berbulu lebat dan jari jemarinya besar. Aku tak bisa melihat wajahnya karena gelap merenggut kesadaranku alias aku pingsan!

Pagi harinya aku terbangun karena tetangga menggosokkan minyak angin ke hidungku dan kaki berkali-kali. Semalaman bayiku menangis dan membuat Bu Dina curiga. Beliau meminta suaminya untuk mendobrak pintu pada tengah malam dan mendapati aku pingsan di dapur sedangkan bayiku menangis di kamar.

Aku pun bingung dan ketakutan. Bu Dina memberiku segelas air putih untuk menenangkan diri.

"Sabar ya, Mbak. Tenangkan diri dulu. Tadi malam si dedek diberi minum tajin biar nggak lapar," kata Bu Dina sambil mengelus punggungku.

Aku pun menceritakan semuanya ke Bu Dina. Beliau tidak kaget karena sudah tahu makhluk apa yang menghuni pohon belakang rumah ini. Beliau hanya berpesan sering-seringlah berdoa agar dijauhkan dari gangguan makhluk gaib.

Aku pun mengangguk paham. Bu Dina menemaniku sampai suamiku pulang siang harinya. Beliau pun menjelaskan kejadian yang dialami aku kepada suamiku. Memang suamiku orang yang mengedepankan logika. Dia tidak mudah percaya soal makhluk gaib apa lagi dengan kejadian yang kualami. Dia dengan mudah mengira aku berhalusinasi atau justru bermimpi. Menyebalkan, bukan?

MALAM JUMAT KLIWON

Malam ini terasa angin berhembus lebih sering, membawa rasa dingin hingga menusuk ke tulang. Aku baru saja selesai menata tas dan bergegas untuk pulang. Kulihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan menunjukkan pukul 22.30 sudah larut malam.

"Sial sekali kenapa Bos selalu beri tugas mendadak!' berkali-kali aku mengumpat dalam hati.

Kantorku terletak di lantai lima belas. Jam segini tentu sangat horor untuk turun menggunakan lift sendirian. Aku sudah menelepon security di lantaiku untuk mengantarkan ke bawah. Sedikit lega, satpam bersedia meski akun harus mengeluarkan uang rokok sebagai tanda terima kasih.

Aku membawa tas berisi laptop, dompet, serta beberapa berkas. Sedangkan handphone kumasukkan dalam kantong blouseku.

"Mbak, sudah selesai nglemburnya?" tegur Pak Djati dari pos jaganya.

"Sudah, Pak. Maaf ya, Pak, jadi merepotkan."

"Nggak apa-apa, Mbak. Kebetulan saya juga mau turun," ucap Pak Djati sambil tersenyum.

Aku dan security itu pun masuk ke lift. Menekan angka 1 untuk menuju pintu utama gedung. Merasa canggung, aku pun memulai pembicaraan.

"Pak Djati sering jaga malam ya? Saya beberapa waktu ini nggak ketemu kalau siang," tanyaku memecah kesunyian di dalam lift.

"Iya, Mbak. Sudah seminggu ini saya selalu jaga malam. Anak-anak lain nggak mau tukar sift."

"Wah, capek dong, Pak. Bergadang terus."

"Namanya pekerjaan, Mbak. Harus profesional kan. Lagi pula kalau sampai dipecat, kasihan keluarga di rumah," jawab Pak Djati sambil menatap ke depan.

Aku memang pernah mendengar perihal Pak Djati yang penyayang keluarga. Beliau berusaha bekerja sebaik mungkin demi mencukupi kebutuhan keluarga serta pengobatan istrinya yang tengah sakit.

"Semangat ya, Pak."

"Iya, Mbak juga semangat ya. Jarang ada pegawai mau lembur di hari Kamis loh," perkataan Pak Djati memancing rasa penasaranku.

"Loh kenapa, Pak?"

"Kamis kan berarti malam Jumat, Mbak. Seperti saat ini kebetulan malam Jumat Kliwon."

Perkataan Pak Djati justru menyadarkanku kalau malam ini malam Jumat Kliwon. Aku deg-degan antara bersyukur sudah selesai pekerjaan dan bisa pulang tanpa takut atau justru jadi was was karena suasana berubah drastis. Dingin mulai menyeruak. Kulihat angka lift terus berkurang. Ingin rasanya segera angka 1 dan pintu terbuka.

"Pak, kenapa nggak tukar sift biar bisa istirahat?"

Sebisa mungkin aku mencairkan suasana. Aku tak ingin terlihat ketakutan. Bisa-bisa jadi bahan pembicaraan sekantor.

"Nggak, Mbak. Saya pasrah saja. Lagi pula kerjaannya sama kan?"

"Iya ya, Pak. Kalau keliling juga sampai atas, Pak?"

"Iya, Mbak. Semua gedung dicek. Kalau saat ini enak bisa bagi tugas. Lantai 1-10 diperiksa sama Budi. Lantai 11-20 diperiksa saya. Terus nanti balik lagi ke pos pusat, Mbak," terang Pak Djati dengan jelas.

Namun, Pak Djati masih memandang lurus ke depan. Aku pun sedikit lega. Akhirnya angka 1 menyala dan pintu terbuka.

"Pak, makasih ya. Ini buat uang rokok, Pak. Tolong diterima," aku menyodorkan uang dua puluh ribu rupiah pada Pak Djati.

"Nggak usah, Mbak. Buat Mbak saja. Saya langsung naik ya. Mau keliling lagi," tolak Pak Djati dengan halus.

"Terima kasih banyak, Pak. Hati-hati di jalan ya," aku pun keluar dari lift dan melambaikan tangan.

Tiba-tiba...... seseorang menepuk pundakku dari belakang.

"Astagaa..... bikin kaget saja," ujarku sambil melihat ke belakang.

Ternyata Budi security shift malam yang keliling di lantai bawah, "Kenapa kok ngomong sendiri, Mbak?"

"Eh, Mas Budi. Nggak kok, itu tadi saya diantar Pak Djati. Saya pulang dulu ya, Mas," jawabku sambil berjalan ke pintu keluar.

Budi menyusulku dengan terburu-buru, "Mbak, serius?"

"Serius apa, Mas Budiman?"

"Tadi dari lantai berapa, Mbak?"

"Lah, kantorku kan dilantai 15, Mas," ucapku santai tanpa merasa hal yang aneh.

"I..iya, Mbak. Hati-hati di jalan ya," jawab Budi mengakhiri pembicaraan.

Aku pun pulang naik taksi online pesananku. Biasanya aku naik bus atau ojek, tapi berhubung sudah larut dan angin kencang seperti akan hujan, aku memutuskan naik taksi. Mahal sih.... tapi nggak apa lah sesekali.

"Pak, boleh saya duduk di depan saja?" tanyaku sambil membuka pintu penumpang.

"Boleh, Mbak. Lagi musuhan ya?" jawab sopir taksi online tertawa kecil.

Aku nggak tahu apa maksudnya. Namun kusenyum saja. Rasa capek badan dan pikiran membuatku cuek dan tak peka.

Perjalanan menuju rumahku sekitar sepuluh menit dengan mobil. Sopir itu terdiam dengan sesekali melirik ke spion yang memantulkan arah belakang. Awalnya aku nggak merasakan apa pun. Tapi..... bau amis menyengat mulai tercium. Seperti bau darah ala mens.

"Mbak.... kok bau amis ya?"

"Nggak tahu, Pak. Saya nggak lagi datang bulan hehehe," lirihku sambil tertawa kecil agar suasana mencair.

Namun, sopir justru terdiam. Wajahnya mulai pucat. Apakah dia masuk angin? Atau.....

"Su.. sudah sampai, Mbak."

"Iya, terima kasih ya, Pak."

Aku memberi bintang lima diaplikasi dan keluar dari mobil. Sopir itu bergegas menginjak gas mobil, melaju agak kencang. Menghilang di ujung jalan belok, sangking kencangnya, sudah tak terlihat mobil taksi itu.

Aku membuka pintu dengan kunci cadangan. Jam segini tentu saja orang tuaku sudah tidur. Waktu menunjukkan pukul 23.45 hal yang tak masuk akal. Kok jadi lama banget perjalanan kantor ke rumah?

Aku pun masuk ke rumah. Berjalan di lorong dan naik tangga dengan cahaya yang minim. Orang tuaku memang suka berhemat listrik. Aku membuka kamar. Meletakkan tasku yang berat dan mengambil baju ganti untuk sekedar membasuh badan dan cuci muka.

Aku ke kamar mandi di dalam kamarku. Ayah memang sengaja membuat kamar mandi di dalam kamarku. Seusai mandi dan berganti pakaian, aku bergegas berbaring di ranjang.

Sudah pukul 00.01 aku mencoba memejamkan mata tetapi susah. Kuambil gawai di atas mejaku. Ada satu pesan kuterima.

Aku pun membuka pesan itu. Ternyata dari Budiman.

[ Mbak ini saya Budiman. Tadi beneran Mbak di lantai 15? Soalnya pukul 21.00 saya keliling cek dan kunci ruangan dari lantai 10 sampai 20 tidak ada orang. Sudah dua minggu ini pemilik gedung menganjurkan tidak memakai ruangan di atas jam sembilan malam. Terlebih setelah kejadian itu.... ]

Aku pun bingung dengan pesannya. Segera kubalas.

[ Maksudnya gimana ya, Mas? Kejadian apa? Malah nggak tahu apa-apa. Bos ngasih tugas mendadak sih. ]

[ Mbak sudah sampai rumah? ]

[ Sudah sampai, Mas. ]

[ Tadi bau amis di jalan? ]

[ Iya, Mas. Pas di taksi. Kok tahu? ]

Aku jadi merasa takut. Pasti ada sesuatu.

[ Mbak... Pak Djati itu sudah meninggal dua minggu yang lalu. ]

DEG! Seketika bulu kuduku berdiri. Merimding sekujur tubuh. Aku lekas membalas chat dari Budiman dengan penuh pertanyaan di dada.

[ Bercanda ya, Mas? ]

[ Mbak, ngapain saya bercanda di malam Jumat Kliwon begini. Ini saya langsung kumpul sama satpam baru. Mbak jangan matiin lampu ya selama tujuh hari jangan di tempat gelap. ]

[ Emang kenapa, Mas? ]

[ Besok saya ceritakan, Mbak. Pagi saja. Selamat malam. ]

Aku meletakkan handphone di meja samping ranjangku. Rasanya antara percaya atau tidak. Namun, ketakutan menyeruak di dada. Aku bergegas tidur. Mengenakan selimut sampai menutupi wajah. Berharap lekas hanyut ke alam mimpi dan terbangun di pagi hari.

***


Aku berlari dari kantorku. Lantai 15 gedung ini, bagaimana aku bisa lolos? Lift kutekan dengan cepat tetapi nihil. Angkanya hanya terdiam. Akhirnya aku turun melewati tangga darurat. Ketakutan dan tergesa-gesa. Aku menuruni anak tangga hingga melewati lantai satu per satu menuju ke pintu EXIT lantai 1.

Keringat menetesi dahiku. Terlebih saat mencoba membuka pintu EXIT tetapi tak bisa. Beberapa kali kudobrak pintu itu. Entah tenagaku yang kurang atau pintu yang terlalu kokoh.

Sesaat kurasa ada sesuatu di balik punggungku. Aku ketakutan dan gemetar. Bahkan untuk menengok pun aku tak sanggup.

Tiba-tiba.....

Aku terbangun dari tidur. Rasa takut masih terasa. Gemetar. Untung hanya mimpi. Seakan nyata. Membuatku ketakutan setangah mati.

Sial! Hampir jam tujuh pagi. Aku bisa terlambat. Bergegas kuberanjak dari ranjang. Menyiapkan keperluan bekerjaku. Mandi sebentar dan lekas berangkat.

Beberapa pesan di gawai tak kupedulikan. Aku berlari mencari ojek biasa di pangkalan. Segera meluncur ke kantor. Walaupun jam kerja pukul 08.00, aku sudah terbiasa sampai di sana setengah jam sebelum waktu bekerja dimulai.

Sesampainya di depan gerbang gedung berlantai 20 itu, Budiman melambaikan tangan ke arahku. Dia berada di pos satpam depan gedung dekat jalan ke parkiran. Aku pun menuju ke sana.

"Pagi, Mbak," sapa Budi.

"Pagi, Mas. Ini bener nungguin aku?"

"Iya, Mbak. Tadi aku udah sms sih tapi belum dibalas. Duduk sini, Mbak di pos."

"Iya, terima kasih. Mau cerita apa sih?" selidikku penasaran.

"Begini ceritanya Mbak.... Dua minggu yang lalu Pak Djati ijin untuk tidak bekerja, tetapi sama atasan tidak diijinkan. Lalu malam harinya saat beliau jaga shift malam, lift tiba-tiba rusak dan tidak bisa terbuka. Beliau mengecek karena ada emergrncy call dari lift. Naiklah melalui tangga darurat. Entah karena apa, Pak Djati terjatuh dari tangga darurat. Keterangan Dokter sih serangab jantung. Cuma anehnya, lift rusak di lantai 7 tetapi Pak Djati ditemukan meninggal di tangga darurat lantai 15. Kejadiannya sengaja ditutupi agar penyewa gedung tidak takut. Hanya saja pemilik memberi pengumuman setelah jam sembilan malam, lantai 11 ke atas ditutup sementara. Makanya kemarin saya kaget kok Mbak bisa turun padahal liftnya dikunci," jelas Budiman sambil menengok kanan kiri tak tenang.

Aku terdiam sejenak. Kalau begitu yang tadi malam mengantarku turun, arwahnya Pak Djati? Yaampun.... seketika aku merinding. Padahal cahaya matahari mulai naik membawa kehangatan.

"M-mas... berati semalam itu hantu?"

"Kemungkinan iya, Mbak.... tapi Mbak nggak diganggu kan? Bau amis gitu biasanya diikuti...." lirih Budiman dengan wajah serius.

"Wah bikin takut aja, Mas. Kok nggak ada yang cerita ya di kantorku?"

"Mana berani, Mbak. Waktu kejadian kan malam. Beberapa orang saja yang tahu dan nggak diekspose. Sebaiknya jangan pulang malam lagi, Mbak. Takutnya bukan arwah Pak Djati yang jahat.... tapi...." Budi memelankan suaranya.

"Hey! Ayo naik! Sudah mau jam delapan loh!" seru temanku memanggil.

"Wah, maaf Mas, aku duluan yaa... Terima kasih infonya," aku berlari menghampiri teman sekantorku, Danny.

Budiman melihatku berlari. Dia tidak menyelesaikan kalimat terakhirnya. Aku sebenarnya penasaran.

Aku bekerja dengan rasa penasaran yang tinggi. Rasanya ingin mengetahui ada apa dengan gedung ini. Sejak kantor pindah ke gedung ini, aku nggak nyaman untum lembur. Jujur, aku nggak suka ketinggian. Selain itu naik lift malam-malam itu mengerikan, terlebih sendirian.

Danny yang berada di samping mejaku bertanya, "Kamu kenapa banyak ngelamun? Ntar kerjaan nggak selesai loh."

"Hmm... aku baru mikirin sesuatu," jawabku singkat.

"Mikir apa Dini? Cerita sini...."

"Kamu pernah lembur di sini?"

"Oh, pernah... Mending jangan lembur. Kalau ada tugas bawa pulang aja. Emang kenapa? Kemarin kamu pulang, kan?"

Aku pun terdiam sejenak. Danny pasti juga merasakan ada yang tak beres di gedung ini.

"Aku... terpaksa lembur karena Bos kasih tugas mendadak. Danny.... waktu kamu lembur, ada kejadian aneh nggak?"

Wajah Danny langsung memucat, "Dini, sorry ya aku nggak bisa bahas hal itu di sini. Cuma kusarankan sebelum Maghrib lebih baik bawa kerjaan pulang. Jangan di sini. Banyak teman yang cerita juga. Dulu aku nggak percaya, setelah ngalami sendiri baru percaya."

"Gitu ya.... Iya, aku usahakan nggak lembur. Aku juga takut. Tadi malam ada hal aneh. Maka dari itu tadi Mas Budiman satpam ngajak ngomong aku."

"Siapa?" tanya Danny terkejut.

"Mas Budiman sekurity. Kamu tahu kan?"

"Jangan bercanda deh, Dini! Mas Budiman sudah meninggal dua hari yang lalu di Pos Satpam depan. Dia kesetrum pas jaga malam," jelas Danny.

"Serius? Bercanda nggak? Tadi malam dia SMS aku pun," jawabku sambil mengeluarkan handphone.

Saat hendak menunjukkan kepada Danny, semua chat dengan Budiman menghilang. Aku jadi makin bingung.

"Tadi di Pos Satpam, aku ama Budiman bahas soal Pak Djati yang meninggal misterius di tangga darurat," imbuhku.

"Iya, Pak Djati memang meninggal. Tadi aku sengaja manggil kamu karena kamu bengong di sana hampir tiga puluh menit."

"Berarti semalam yang antar aku naik lift hantunya Pak Djati? Terus yang semalam ngajak ngomong, SMS dan tadi pagi ngobrol ama aku itu hantu juga?" tanyaku memastikan.

Seketika kepalaku pening, rasanya lemas dan takut bercampur padu. Aku nggak menyangka kalau dua sosok yang kukira manusia ternyata hantu. Gedung ini memang aneh. Rumor itu ternyata benar semenjak lantai 15 kebakaran dan merambat ke lantai 16, banyak korban yang meninggal di kantor maupun tangga darurat, suasana gedung ini jadi angker.

Setelah mengalami renovasi dan penyewaan lantai 15 dan 16 dengan discont besar, kantorku lah yang pertama menempati bekas kebakaran ini. Banyak yang mengeluh diganggu mulai dari barang berpindah atau disembunyikan, langkah kaki tanpa ada si empunya, bau amis, bau sesuatu terbakar, hingga suara jeritan yang pernah terdengar dan tak tahu berasal dari mana.

Kantorku tidak menyelesaikan kontrak gedung. Baru tiga bulan, Bos memutuskan indah. Meninggalkan 9 bulan sisa kontrak tanpa ada yang mau menggantikan sewa.

PESANAN SIAPA?

Vira menjalani hari-hari yang menyedihkan setelah menikah siri dengan Didik karena hamil. Saat pacaran Didik memang lelaki yang perhatian, tetapi jika cemburu atau amanrahnya muncul tak segan-segan dia melakukan kekerasan kepada Vira.

Kali ini sifat buruknya makin menjadi karena kesusahan ekonomi. Semenjak hamil Vira harus keluar dari tempatnya bekerja. Lalu tinggal bersama Didik di dalam kontrakan sederhana yang berderet banyak. Didik tak bisa setiap hari bersama Vira karena istri pertamanya belum mau dicerai dan selalu menghindar saat membahas tentang kehamilan Vira.

Sore itu, Didik seperti kesetanan saat berdebat dengan Vira. Hantaman demi hantaman dilayangkan pada wanita hamil lima bulan itu. Sekuat tenaga Vira menutupi perutnya agar tidak terkena amukan Didik. Vira menangis. Berteriak. Membuat penghuni kontrakan keluar dan mencoba melerai meski akhirnya Didik pergi begitu saja.

Vira masih menangis sesenggukan dan beberapa tetangganya membantu mengobati luka lebam di wajah dan lengan Vira.

"Astafirullah, Mbak. Lukanya sampai biru-biru gini. Mbak nggak coba visum aja? Laporin aja ke polisi," ucap Bu Risma tetangga Vira.

"Terima kasih sudah mengobatiku, Bu. Maaf, urusan ini personal. Aku nggak mau laporin Mas Didik. Mungkin dia sedang banyak pikiran." jawab Vira membela suaminya.

"Dek, kalau lelaki seperti itu susah tobatnya. Kalau suka mukul bisa jadi kebiasaan. Kasihan ini jabang bayimu denger kalian bertengkar dan kamu dipukuli hampir tiap hari. Coba rundingan sama keluargamu biar dilaporkan," kata Bu Narmi menimbali perkataan Bu Risma.

Vira hanya mengucapkan terima kasih dan maaf tanpa memikirkan melakukan hal itu. Sejak Vira hamil, dia bagaikan dibuang oleh keluarganya. Hanya Didik satu-satunya yang peduli pada Vira walau sering kasar.

Sore pun berganti malam. Hujan deras mengguyur Kota Yogyakarta. Vira yang kesakitan dan lemas, masih harus menderita karena lapar. Sejak pagi tadi dia belum makan karena Didik datang dengan marah-marah. Tak juga dia membawa makanan atau meninggalkan uang sepeserpun. Sama sekali tak bertanggung jawab penuh. Padahal tabungan Vira sudah habis karena dipakai untuk makan sehari-hari selama di sana.

"Maaf ya, Dek. Mama juga lapar. Tapi nggak ada apa-apa di sini kecuali teh manis ini." kata Vira mengusap perutnya yang bundar dan menyeduh teh celup yang tinggal satu kantong.

Tiba-tiba ada suara ketukan pintu di tengah hujan. Vira mengira salah dengar atau ketukannya berasal dari kontrakan sebelah. Namun saat suara seorang lelaki terdengar, "Permisi. Ini pesanannya."

Vira pun berdiri dan membukakan pintu. "Maaf cari siapa, Pak?" tanya Vira pada lelaki pengantar makanan via online tersebut.

"Ini betul dengan Mbak Vira?"

"Ya, betul."

"Ini pesanan makanan untuk Mbak Vira dari Nina. Mohon diterima ya."

"Nina siapa, Pak? Kok nggak kenal ya?"

"Kurang tahu, Mbak. Tapi alamat dan petunjuk serta namanya sudah sesuai. Ini ya Mbak. Terima kasih dan selamat malam," kata Pak pengantar makanan online itu berlalu pergi dengan wajah pucat.

Vira mengira mungkin Didik yang memesankannya makanan. Dia pun tak berpikir mengapa bapak itu pucat dan terburu-buru. Mungkin karena hujan.

Vira pun berdoa lalu menyantap makanan nasi ayam geprek keju yang berada di sterefoam itu. Setelah kenyang, Vira tertidur nyenyak.

Dalam tidur, antara sadar atau mimpi, Vira mendengar suara tangisan. Lalu suara orang melangkah perlahan mengelilingi kontrakannya. Vira tak bisa bergerak. Mungkinkah ini yang dinamakan sleeping paralyzed?

Keesokan harinya ....

Didik datang dengan tanpa rasa bersalah. Dia pun mengajak Vira sarapan soto kesukaannya. Vira pu bertanya soal pengantar makanan online itu. Didik justru bingung dan tak mengerti. Mereka pun menyimpulkan mungkin tetangga kontrakan yang memesankan untuk Vira karena khawatir.

Setelah sarapan, Didik mengatar Vira kembali ke kontrakan lalu meninggalkannya untuk bekerja. Vira mencuci baju lalu menjemurnya. Bertemu dengan Bu Risma yangnjuga sedang menjemur pakaian.

"Siang Bu Risma." sapa Vira dengan sopan.

"Siang juga Mbak. Rajin banget ya bumil cantik ini."

Mereka pun berbincang sangat akrab sampai Vira menanyakan soal nama "Nina". Seketika Bu Risma terdiam dan permisi. Tak melanjutkan percakapan mereka. Vira menjadi curiga.

Hari-hari berikutnya semakin mencekam bagi Vira. Hampir setiap malam saat sendirian, dia mengalami tindian atau tak bisa bergerak antara mimpi dan nyata. Hal itu membuatnya sangat takut dan bingung. Tentu saja Didik tak percaya soal hal gaib dan sejenisnya.

Tak hanya sekali pengalaman pesanan makanan itu. Hingga kali ketiga, Vira sungguh penasaran siapa yang baik hati memesankan makanan untuknya bahkan tahu apa yang Vira sukai.

Siang harinya saat Vira bertemu dengan Bu Narmi soal pesanan makanan online tersebut. Bu Narmi menunjukkan reaksi yang sama dengan Bu Risma. Terdiam dan mencoba menghindar.

"Bu, ada apa sebenarnya? Tolong ceritakan saja. Please, Bu." Vira memohon.

Lalu Vira pun menimpali dengan cerita hampir setiap malam dia mendengar wanita menangis serta ada yang memutari kontrakannya. Tak hanya itu, soal tindihan juga Vira ceritakan agar Bu Narmi mengerti yang dirasakan Vira.

"Baiklah Dek. Ibu ceritakan tapi jangan takut ya? Bukannya menakut-nakuti tapi yang namanya Nina itu dulu ngontrak di tempat yang saat ini kamu tempati." kata Bu Narmi sambil menengok kanan dan kiri takut ada yang dengar karena hal ini harusnya dirahasiakan.

"Loh? Terus orangnya udah pindah gitu, Bu?" tanya Vira yang semakin penasaran.

"Bukan pindah. Jadi dia itu stress karena suaminya nggak mau tanggung jawab soalnya dia nikah siri aja. Suaminya punya pacar lagi dan jarang ke sini bahkan tidak kasih uang sampai nunggak bayar kontrakan. Berhubung pemilik kontrakan kasihan sama Nina yang lagi hamil muda, dia masih boleh di sini. Suatu malam, Nina nekat gantung diri di pohon yang bekas ditebang itu loh. Sempat heboh beritanya. Akhirnya suami sirinya makamin Nina di rumah asalnya. Sejak itu kontrakan bekas Nina kosong hampir setahun. Biasanya sih nggak ganggu, cuma ada suara nangis aja seperti Nina biasanya tiap malam nangisin suaminya. Terus Dek Vira datang ngontrak sama suaminya. Baru deh itu kamar dipakai lagi." jelas Bu Narmi membuat Vira merinding.

Siapa orang yang tak akan takut jika kontrakan yang ditempati bekas orang yang akhirnya gantung diri di pohon depan kontrakan. Vira pun ketakutan karena kemungkinan yang memesan makanan online adalah hantu. Namun tidak menutup kemungkinan jika orang iseng atau menakut-nakuti saja.

"Yaampun Bu kok serem banget. Kenapa Pak Tono tak bilang kalau kamar itu kosong lama. Padahal suamiku sudah bayar di muka untuk setahun."

Setelah percakapan itu, Vira semakin tak enak hati. Takut dan paranoid. Beberapa kali dia bilang ke Mas Didik tetapi berakhir dengan makian dan segala kata kasar yang membuat hati Vira semakin sakit.

Vira tak bisa pindah dari tempat itu. Namun lama kelamaan menghadapi sikap Didik membuatnya semakin terhimpit. Perut semakin membesar dan sering mendapat kekerasan membuat Vira semakin tak bisa berpikir jernih.

Suatu malam saat Didik tidur di samping Vira, ada ketukan pintu dan Vira segera membukanya. Seperti biasa ada pesanan online misterius untuk Vira dari Nina. Setelah pak kurir pergi, Vira masuk dan membuka bungkusan itu.

Vira terkejut bungkusan itu berisi makanan dan sebungkus racun tikus. Vira pun semakin gelap mata.

"Vir, ngapain buka pintu? Anginnya dingin sampai kamar nih!" kata Didik yang membuat Vira memiliki ide.

"Maaf, Mas. Ini ada kiriman makanan online lagi seperti yang aku ceritakan. Aneh kan Mas." lirih Vira sambil menutup pintu dan jalan ke kamar memperlihatkan bungkusan sterofoam berisi makanan.

"Halah paling orang iseng itu tu! Gitu aja takut. Sini kumakan aja. Kebetulan laper," kata Didik sambil menyambar sekotak berisi nasi goreng seafood.

Tanpa banyak bicara, Didik memakan nasi goreng itu dengan lahap. Vira hanya menatapnya nanar. Hingga akhirnya Didik batuk-batuk dan merasa lehernya sakit. Vira hanya diam melihatnya kesakitan.

"Vir, tolong Vir. Ini kenapa sakit banget. Tenggorokan panas." Didik meminum beberapa gelas air putih tapi tenggorokannya tetap sakit dan kemudian perutnya pun juga sakit.

Vira berdiri dan tersenyum. Didik menggelepar kesakitan dan keluar busa dari mulutnya. Penderitaan Vira berakhir malam itu.

"Terima kasih Nina, sudah membantuku agar tak bernasib sama denganmu," lirih Vira yang kemudian keluar kontrakan dan berteriak meminta bantuan.

Tetangga pun berdatangan dan coba membantu Didik yang akhirnya sudah tak bernapas. Malam itu Vira bersedih karen sadar mengapa tak sedari dulu dia membunuh sumber kesakitan di hidupnya.

Dari kejauhan, sosok Nina pun tersenyum menatap Vira dalam gelapnya malam.

TERSESAT DI HUTAN

Seandainya aku menurut kata pemandu, pasti tak akan tersesat di hutan ini. Matahari sudah mulai turun dari tahta tertingginya. Angin sore berembus perlahan menerpa rambutku. Kaki ini melangkah semakin cepat menyusuri hutan, berharap lekas bertemu rombongan lainnya.

Nasib baik kadang tak berpihak pada diriku. Air minum di botol sudah habis dan belum kutemukan teman-teman serombongan. Bukan hanya soal takut tak bisa makan atau minum, berada di hutan ini sendirian menjadi sangat mengerikan bagiku. Terlebih setelah senja tiba.

Aku bukan pecinta alam liar atau seorang lulusan pramuka terbaik, bukan! Ikut berwisata di hutan ini pun karena rengekan Zee yang terus memintaku ikut.

"Ayolah Thom ... ikut wisata ke Gunung Fujiyama pasti menyenangkan. Sudah sampai di sini kalau tidak ke sana kurang mengasyikan," kata Zee waktu itu.

Aku menyesali kenapa tadi tertarik melihat perbatasan hutan hingga terperosok di semak-semak. Semoga saja pemandu sadar kalau aku menghilang. Pikiranku pun bertanya-tanya, entah Zee mencariku atau tidak. Aku hanya berusaha mencari jalan keluar dari hutan yang menakutkan ini.

Ternyata sore di dalam hutan sangat hening dan mencekam. Terlebih kesunyian ini mengusik batinku. Aku tidak suka sepu dan sendirian. Ini membuatku berpikir hal-hal yang mengerikan. Bagaimana jika sampai malam aku belum bertemu dengan rombongan wisata? Bagaimana jika mereka tak sadar aku tersesat? Bagaimana kalau Zee justru mengira aku pulang lebih dahulu ke hotel? Berapa lama aku akan di dalam hutan ini sendirian? Pertanyaan itu berputar-putar di otak dan membuatku semakin ketakutan.

Kenapa aku sangat bodoh? Harusnya saat terperosok tadi aku langsung berteriak dan menunggu mereka menolong. Bukannya malah panik berlari karena ulat bulu menempel di dahiku. Hal itu membuatku semakin jauh tersesat. Sial!

Suara jangkrik pun mulai terdengar, pertanda hari makin gelap. Aku mencari senter di dalam tasku. Sejak tadi ponsel pun tak ada jaringan sama sekali. Karena kandungan batu-batuan gunung membuat sinyal tak sampai di sini, kata pemandu tadi saat memulai perjalanan wisata.

Aku makin frustasi dan berteriak-teriak, berharap ada seseorang yang mendengarku. Beberapa kali aku duduk dan berdoa, meminta ampun pada Tuhan jika ada salah dan berharap bisa segera menemukan jalan keluar.

Sayup-sayup terdengar dari kejauhan, suara bergema dari beberapa orang. Aku bergegas berlari ke arah itu.

"Thom ... Thom ... Thom ...."

Teriakan itu bergema karena suasana hutan yang makin sepi. Sekuat tenaga aku berlari ke arah cahaya yang terlihat semakin dekat. Pintu keluar! Aku melihatnya, itu perbatasan wilayah jalan masuk ke kaki Gunung Fuji dan Hutan Aokigahara.

"Zee! Hei, teman-teman! Aku di sini!"

Aku pun berteriak, berharap mereka dengar suaraku. Saat sinar itu makin jelas, terang, dan menyilaukan mataku. Aku tersadar di hadapanku hanya ada semak-semak.


***


Berita terkini, seorang wisatawan asal Amerika bernama Thomas ditemukan meninggal di Hutan Aokigahara. Kondisi korban sangat mengenaskan dan berada di dalam semak-semak berduri sehingga sulit dievakuasi. Menurut penyelidikan petugas, sudah seminggu turis itu dinyatakan hilang saat berwisata ke Gunung Fuji bersama rombongan wisatawan lainnya. Seorang yang melaporkan hilangnya Thomas adalah mantan istrinya yang bernama Zee. Mereka ikut rombongan kantor untuk wisata ke Jepang karena bekerja di tempat yang sama. Kasus ini masih dalam penyelidikan lebih lanjut. Sekian berita terkini.

Jodoh, Sehidup Semati

Dua puluh bulan berlalu begitu cepat. Semenjak aku berpisah dengan Evan, entah mengapa berat badanku semakin melonjak. Mungkin benar kata orang, "Depresi bisa memicu napsu makan atau sama sekali tidak lapar. Kamu harus ke dokter."

Sebenarnya, aku masih mencintai Evan. Namun dia terlalu posesif dan sering berlaku seperti psikopat. Aku takut. Tak ingin hidup dalam kengerian, aku pun bertekad tidak kembali padanya lagi.

Sore ini aku pergi ke sebuah klinik, konsultasi kepada dokter. Tubuhku sudah masuk dalam kategori obesitas. Aku harap ada jalan keluar.


"Nama?"

"Vina, dokter."

"Usia?".

"25 tahun."

"Pekerjaan sehari-hari?"

"Berdagang, dokter. Aku buka toko pakaian dan tas."

"Apakah ada keluhan seputar kesehatan?"

"Berat badanku terus bertambah, Dok. Meskipun berdiet hingga puasa, tetap bertambah. Sekarang sudah tiga digit," aku mulai menunduk melihat kaki dan tanganku yang membengkak karena gemuk.

"Baik, kalau begitu maukah ikut kelas diet praktis?"


Begitulah saran dokter yang akhirnya kulakukan. Beberapa kali Evan menghubungiku. Puluhan misscall dan pesan dia kirim ke handphoneku. Namun, hal itu tetap kuabaikan.

[ Vina, gimana kabarmu? ]

[ Vina, aku rindu kamu. ]

[ Vina, please balas. ]


Awalnya hanya kalimat biasa, tapi lama kelamaan mulai menyeramkan. Evan seperti tak terkendali. Mengirim pesan sampai ratusan kali. Satu pesan yang sangat menakutkan teringat jelas di benakku.


[ Oke, Vin. Kalau kamu keras kepala. Kamu hanya bisa sembuh jika bertemu denganku! Percuma ikut kelas diet atau puasa. PERCUMA! Kalau kamu tidak menemuiku sekarang, besok kamu tak akan bisa berjalan dengan kondisi tubuh bundarmu! ]


Apakah ini hanya ancaman? Atau prank? Namun, sesak tubuhku terasa semakin menjadi. Sebenarnya apa yang terjadi padaku? Kedua kaki mulai menggelembung dan tak bisa ditapakan ke lantai. Aku menyerah! Aku bergegas meraih gawaiku dan menelpon Evan.


"E-Evan ...."

"Hallo? Vina? Vin, kamu berada di mana? Aku segera ke sana."

"Aku di Apartemen Mawar nomer 313. Evan, sebenarnya apa yang terjadi? Kakiku menggelembung."

"Sudah. Jangan bergerak. Aku akan segera sampai sana."


Evan menutup percakapan dan aku meletakkan gawai di meja. Tanganku juga mulai menggelembung. Tubuhku bagai balon yang ditiup kencang, sudah penuh, tetapi terus mengembang.

Beberapa saat kemudian, aku tak ingat apa yang terjadi. Mungkin aku ketiduran. Namun, saat mata ini terbuka ... aku melihat sekeliling, banyak orang berkumpul sambil memakai masker atau menutupi hidung mereka. Aku menyibakkan keramaian demi melihat apa yang menarik perhatian mereka.

Betapa terkejutnya aku. Mata ini melihat darah di mana-mana. Beberapa potongan tubuh yang terkoyak bagaikan korban bom bunuh diri. Seketika tubuhku terasa ringan. Entah karena ingin pingsan, atau karena tersadar jika potongan tubuh itu milikku. Aku? Sudah meninggal!


"Maafkan aku, Vina. Harusnya kamu kembali padaku, sebelum nasib buruk menimpamu. Aku sengaja mengikatmu hanya berjodoh denganku. Waktu kita hanya dua tahun untuk kembali bersama. Kalau tidak, kamu makin gemuk dan meledak layaknya balon sedangkan aku makin kurus dan tersedot dalam tulangku sendiri. Tak kusangka mantra hitam ini benar menyatukan kita walau di alam baka." ucap Evan di sampingku.


Aku tak percaya dengan perkataan Evan. Namun saat melihat Evan juga meninggal mengenaskan di depan pintu apartemen kamarku, aku pun sadar. Jodoh itu memang sehidup semati.

Tiga Sekawan DTD

Malam tahun yang biasanya ramai dengan kembang api, kali ini menjadi sepi karena hujan badai mengguyur kota sejak sore tadi. Tiga sekawan berkumpul di rumah sambil menyeduh kopi untuk teman berbagi cerita. Dari sekian banyak kisah, mereka memilih kisah seram untuk diperbincangkan.


"Kamu tahu nggak cerita soal rumah kosong nomor tiga belas?" tanya Dika kepada kedua temannya.

"Rumah yang mana sih?" kata Toni, bingung.

"Itu loh ... yang dekat jalan ke kuburan," sahut Didik sambil menikmati kopi khas Temanggung.

"Emang di sana ada rumah? Aku baru tahu." Toni belum tahu soal hal itu. Dia dengan santai mengambil segelas kopi dan meniup perlahan sebelum meminumnya.

"Ada, aku juga baru tahu karena tempo lalu ada kejadian menghebohkan di sana. Pak Aris mencari rumput untuk makan kambing. Di sekitar rumah itu memang banyak rumput hijau yang sudah tinggi. Saat menebas rumput bagian depan, sayup-sayup terdengar suara tangisan. Sepertinya suara wanita. Pak Aris mencoba menengok ke arah asal suara. Saat mengintip di balik pintu, ada sosok wanita merayap di lantai sambil menangis lirih. Pak Aris langsung lari ketakutan meninggalkan rumput dan aritnya di sana," jelas Dika dengan wajah serius.


Dika memang penduduk asli Kampung Seruni, sedangkan Toni dan Didik berasal dari kota dan sudah dua bulan tinggal bersama Dika. Mereka bekerja di pabrik rokok ternama. Tentunya kisah misteri soal rumah kosong ini lebih dimengerti Dika.


"Halah, paling juga halusinasi," celetuk Didik yang memang pemberani.


Pernah suatu ketika ada suara cekikikan ala Kunti di depan rumah, Didik dengan berani melempar panci ke arah suara itu. Seketika suara tawa berganti tangis lalu menghilang. Mungkin benjol kali, ya?


"Dik, serius tuh ceritanya? Soalnya kemarin Mbok Surti juga cerita kalau rumah kosong arah ke kuburan itu pernah buat gantung diri wanita asing. Sampai sekarang belum diketahui siapa orang itu, tetapi jasadnya sudah dikebumikan secara layak di makam dekat rumah angker itu. Maksudnya sama ya? Rumah nomor tiga belas?" selidik Toni sambil memperkecil jarak duduk antara dirinya dengan Didik.

"Apaan sih deket-deket? Dasar penakut!" protes Didik, mendorong tubuh Toni yang besar tapi bukan tipe pemberani.

"Iya, Ton. Mbok Surti cerita rumah yang sama. Entah sih benar atau nggak. Pastinya ada sesuatu di sana ...."


Dika menatap Didik lalu melirik ke arah Toni. Ide aneh terbesir di pikirannya.


"Kenapa lihat-lihat? Mau ngajak ke sana?" tantang Didik yang sudah paham kode Dika.

"Ya, ayo. Tuh si bro Toni nanti ngompol nggak?" Dika tertawa melihat raut wajah Toni yang mulai memucat.

"Apaan sih? Ini sudah mau jam 03.00 pagi. Nggak usah aneh-aneh deh! Lagi pula masih gerimis kan." Toni selalu mempunyai alasan untuk menyelamatkan diri dari tingkah laku kedua sahabatnya.

"Alasan aja! Ke sana aja, yuk. Hitung-hitung uji nyali di awal tahun," kata Didik sambil bangkit berdiri. Dia mengambil jaket yang diletakan di kursi lalu memakainya.

"Ayo, siapa takut!" Dika pun berdiri dan menuju kamar mengambil jaket lalu memakainya. Udara memang sangat dingin terlebih masih ada hujan rintik-rintik sisa badai beberapa jam yang lalu.

"Kenapa sih kalian iseng mulu? Terpaksa deh ikut daripada ditinggal sendirian," gerutu Toni sambil mengenakan baju hangatnya dan mengenakan hoodie.


Mereka bertiga sengaja memakai mantol celana dan baju agar lebih muda bergerak. Tak lupa sandal jepit dipakai, mereka berjalan beriringan dengan bantuan penerangan lewat senter. Semakin terasa dingin di luar. Tubuh mereka pun menggigil.


"Sudah kubilang ini ide buruk. Dingin banget jam tiga jalan di tengah hujan. Lama-lama kalian kurang waras ya," gumam Toni dengan bersungut-sungut.

"Sst ... jangan gerutu aja. Jam segini pas gerbang dunia lain terbuka, loh," bisik Didik ke Toni yang berjalan di belakangnya.


Sedangkan Dika berada di belakang Toni. Seperti biasa, Toni di tengah. Mereka sudah hafal kebiasaan Toni.

Sesampainya di rumah kosong yang gelap, mereka terhenti karena suara rintihan minta tolong terdengar. Didik menengok ke arah Toni dan Dika pun saling pandang. Mereka perlahan ke arah samping rumah dan mengintip asal suara dari sela-sela lubang di jendela.


"Toni, Dika, nggak beres nih. Itu wanita orang apa hantu? Kok kakinya di pasung?" bisik Didik yang pertama kali melihat ke lubang jendela.

"Hlo, kalo itu orang deh. Hantu mana ada di pasung kakinya," sahut Toni yanh memberanikan diri mengintip juga.

"Duh, kita lapor ke Pak Kades dulu aja. Itu sepertinya orang deh. Kakinya di pasung jadi nggak bisa keluar rumah," imbuh Dika meyakinkan.

"Nggak, Mas. Itu orang sudah mati karena nggak ditolong sama Pak Aris tempo lalu."

"Hlo, kok tahu?" tanya ketiga sekawan itu serentak sambil menengok ke kanan, arah suara.

"Tahu lah, Mas. Saya kan arwahnya itu orang. Hi hi hi hi ...."


Sosok mengerikan itu terbang melayang ke atas rumah kosong. Seketika Didik, Toni, dan Dika kehilangan kesadarannya alias semaput. Baru kali ini mereka bertemu dengan sosok makhluk gaib dan berada tepat di depan mata.



***



Berita terbaru, seorang wanita ditemukan meninggal dengan kondisi kaki dipasung dalam rumah kosong, Kampung Seruni. Laporan dari tiga pemuda yang sempat pingsan semalaman di depan bangunan kosong itu membuat pihak kepolisian turun tangan. Polisi masih menyelidiki kasus tersebut dan dikaitkan dengan penemuan mayat sebelumnya di sana beberapa minggu lalu. Penyelidikan ini mengarah ke penculikan, pencabulan, serta pembunuhan karena ditemukan bukti kekerasan fisik serta hasil otopsi yang mengarah ke pencabulan. Sekian berita lokal terkini. Radio HaluLovers FM

PARASIT

Belakangan ini berat badanku naik drastis. Padahal aku sudah mencoba mengurangi makanan, tetapi setiap menimbang beratku selalu bertambah. Aku merasa ada sesuatu di dalam perutku. Terkadang aku sangat merasakan ada yang bergerak di dalam perutku saat aku akan beristirahat.

Awalnya aku tidak terlalu memikirnya. Mungkin hanya perasaanku saja. Namun lambat laun semakin sesak perut ini membuncit dan sering sekali sakit. Sudah setahun aku merasakannya dan kuputuskan untuk berobat ke rumah sakit.

Dokter menyarankan aku untuk pemeriksaan lanjut agar mengetahui kondisiku secara lengkap. Betapa kagetnya dokter saat membaca hasil USG dan rongsenku. Ada beberapa benda asing di dalam perutku bahkan hampir naik ke paru-paru dan jantung.
Dokter menyarankan untuk operasi mengeluarkan benda asing dari perutku.

Sempat aku syok dan berfikir apakah ini "Santet"? Siapakah yang tega melakukan ini padaku? Apakah mantan kekasihku? Atau orang yang tidak suka padaku? Pertanyaan itu menjejal dikepalaku. Tetapi aku harus memutuskan dengan segera operasi ini.


Dengan nada agak takut aku menyanggupi operasi itu demi kesembuhanku. Aku hanya bisa berharap semua akan baik-baik saja.

Operasi pun berlangsung........

Dokter dan perawat sangat kaget melihat isi perutku. Benda asing itu bukan paku atau kawat.
Bukan juga rambut atau kaca, seperti yang ku pikirkan jika itu "Santet".
Melainkan puluhan bahkan ratusan cacing pita yang sudah berkembang biak. Bahkan beberapa menempel naik hampir ke paru-paru dan jantungku.
Entah mengapa dan bagaimana ini bisa terjadi.

Dokter berupaya mengambil semua cacing pita itu dan menyelesaikan operasinya. Setelah sadar dari operasi, aku merasa perutku agak kram dan lebih ringan ku rasa.

Aku bertanya pada dokter apa penyakitku sudah sembuh? Apakah benda asing itu sudah diambil?

Dokter menjawab, "Operasi sudah berjalan dengan lancar. Benda asing tersebut sudah kami keluarkan. Apakah Anda tau perut Anda terdapat Parasit Cacing Pita yang berkembang biak dengan sangat cepat. Anda harus menjaga kebersihan makanan dan memilih makanan yang tepat agar tidak terjadi hal serupa."

Aku terbelalak kaget. "A a a apaa dok? Cacing pita?? Bagaimana mungkin bisa. Diagama saya pun di haramkan untuk mengkonsumsi babi dan katak. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi?"

Dokter pun menjelaskan, "PARASIT ini bisa tumbuh dengan subur walau hanya berawal 1 cacing saja. Tidak selalu dari makanan yang kita makan. Tetapi bisa dari kebersihan lingkungan. Apakah Anda tau berapa jumlah di dalam perut Anda tadi?"

"Berapa dokter?", tanyaku penasaran.

"Ada puluhan bahkan ratusan sudah berkembang biak di dalam perut Anda. Syukurlah belum terlambat."

Saya pun kaget dan mual seketika membayangkan sejumlah cacing itu di dalam perutku. Sangat menyeramkan.


Seminggu berlalu ....

Aku sudah mulai sehat dan bekas operasi sudah mulai sembuh.
Tidak sengaja aku melihat mantan kekasihku sedang duduk di taman sambil menelpon seseorang. Aku mendekatinya, sempat ingin menyapa tetapi ku urungkan karena penasaran mendengar percakapannya di telepon.


"Bagaimana Mbah bisa gagal? Santet 1 tahun yang lalu mosok gagal?? Apakah ada yang lebih mematikan selain kirim PARASIT ke tubuh Intan? Bunuh segera Mbah. Saya tidak rela bulan depan dia akan menikah! Saya siap bayar 3 kali lipat!!"

Mendengar perkataannya itu aku kaget dan sangat ketakutan. Ternyata dugaanku benar. Aku adalah Intan yang dia maksud. Saat aku hendak berpaling menjauh, mantan kekasihku tak sengaja melihat ke belakang dan tersenyum sangat dingin.

Dia berkata, "Rupanya kamu mendengarnya ya. Selamat menikmati sisa hidupmu."

Aku pun lari ketakutan sangat takut. Aku mendengarnya tertawa sangat jahat ku rasa.


Tiba-tiba ....


BRUUUUAAAAAKKKK



Kejadian itu terjadi terlalu cepat ....

Saat ku terbangun, aku melihat banyak orang berkerumun.
Ada sesuatu terjadi ....
Aku mendekat, dan ternyata aku melihat tubuhku sendiri bercucuran darah tergeletak tak berdaya di atas aspal jalan.

Ada apa ini? Apakah aku meninggal?

Sepertinya aku sudah mati. Aku kecelakaan karena ketakutan. Aku meninggal karena perbuatan mantan kekasihku. Mungkin jika aku tidak mendengar percakapannya, aku masih bisa hidup.

Ya, walau dia pasti akan mengirim Santet lagi selain parasit untuk menghilangkan nyawaku 😨



Foto Ilustrasi Parasit dari Google