Malam ini terasa angin berhembus lebih sering, membawa rasa dingin
hingga menusuk ke tulang. Aku baru saja selesai menata tas dan bergegas
untuk pulang. Kulihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan
menunjukkan pukul 22.30 sudah larut malam.
"Sial sekali kenapa Bos selalu beri tugas mendadak!' berkali-kali aku mengumpat dalam hati.
Kantorku terletak di lantai lima belas. Jam segini tentu sangat horor
untuk turun menggunakan lift sendirian. Aku sudah menelepon security di
lantaiku untuk mengantarkan ke bawah. Sedikit lega, satpam bersedia
meski akun harus mengeluarkan uang rokok sebagai tanda terima kasih.
Aku membawa tas berisi laptop, dompet, serta beberapa berkas. Sedangkan handphone kumasukkan dalam kantong blouseku.
"Mbak, sudah selesai nglemburnya?" tegur Pak Djati dari pos jaganya.
"Sudah, Pak. Maaf ya, Pak, jadi merepotkan."
"Nggak apa-apa, Mbak. Kebetulan saya juga mau turun," ucap Pak Djati sambil tersenyum.
Aku dan security itu pun masuk ke lift. Menekan angka 1 untuk menuju
pintu utama gedung. Merasa canggung, aku pun memulai pembicaraan.
"Pak Djati sering jaga malam ya? Saya beberapa waktu ini nggak ketemu kalau siang," tanyaku memecah kesunyian di dalam lift.
"Iya, Mbak. Sudah seminggu ini saya selalu jaga malam. Anak-anak lain nggak mau tukar sift."
"Wah, capek dong, Pak. Bergadang terus."
"Namanya pekerjaan, Mbak. Harus profesional kan. Lagi pula kalau sampai
dipecat, kasihan keluarga di rumah," jawab Pak Djati sambil menatap ke
depan.
Aku memang pernah mendengar perihal Pak Djati yang penyayang keluarga.
Beliau berusaha bekerja sebaik mungkin demi mencukupi kebutuhan keluarga
serta pengobatan istrinya yang tengah sakit.
"Semangat ya, Pak."
"Iya, Mbak juga semangat ya. Jarang ada pegawai mau lembur di hari Kamis loh," perkataan Pak Djati memancing rasa penasaranku.
"Loh kenapa, Pak?"
"Kamis kan berarti malam Jumat, Mbak. Seperti saat ini kebetulan malam Jumat Kliwon."
Perkataan Pak Djati justru menyadarkanku kalau malam ini malam Jumat
Kliwon. Aku deg-degan antara bersyukur sudah selesai pekerjaan dan bisa
pulang tanpa takut atau justru jadi was was karena suasana berubah
drastis. Dingin mulai menyeruak. Kulihat angka lift terus berkurang.
Ingin rasanya segera angka 1 dan pintu terbuka.
"Pak, kenapa nggak tukar sift biar bisa istirahat?"
Sebisa mungkin aku mencairkan suasana. Aku tak ingin terlihat ketakutan. Bisa-bisa jadi bahan pembicaraan sekantor.
"Nggak, Mbak. Saya pasrah saja. Lagi pula kerjaannya sama kan?"
"Iya ya, Pak. Kalau keliling juga sampai atas, Pak?"
"Iya, Mbak. Semua gedung dicek. Kalau saat ini enak bisa bagi tugas.
Lantai 1-10 diperiksa sama Budi. Lantai 11-20 diperiksa saya. Terus
nanti balik lagi ke pos pusat, Mbak," terang Pak Djati dengan jelas.
Namun, Pak Djati masih memandang lurus ke depan. Aku pun sedikit lega. Akhirnya angka 1 menyala dan pintu terbuka.
"Pak, makasih ya. Ini buat uang rokok, Pak. Tolong diterima," aku menyodorkan uang dua puluh ribu rupiah pada Pak Djati.
"Nggak usah, Mbak. Buat Mbak saja. Saya langsung naik ya. Mau keliling lagi," tolak Pak Djati dengan halus.
"Terima kasih banyak, Pak. Hati-hati di jalan ya," aku pun keluar dari lift dan melambaikan tangan.
Tiba-tiba...... seseorang menepuk pundakku dari belakang.
"Astagaa..... bikin kaget saja," ujarku sambil melihat ke belakang.
Ternyata Budi security shift malam yang keliling di lantai bawah, "Kenapa kok ngomong sendiri, Mbak?"
"Eh, Mas Budi. Nggak kok, itu tadi saya diantar Pak Djati. Saya pulang dulu ya, Mas," jawabku sambil berjalan ke pintu keluar.
Budi menyusulku dengan terburu-buru, "Mbak, serius?"
"Serius apa, Mas Budiman?"
"Tadi dari lantai berapa, Mbak?"
"Lah, kantorku kan dilantai 15, Mas," ucapku santai tanpa merasa hal yang aneh.
"I..iya, Mbak. Hati-hati di jalan ya," jawab Budi mengakhiri pembicaraan.
Aku pun pulang naik taksi online pesananku. Biasanya aku naik bus atau
ojek, tapi berhubung sudah larut dan angin kencang seperti akan hujan,
aku memutuskan naik taksi. Mahal sih.... tapi nggak apa lah sesekali.
"Pak, boleh saya duduk di depan saja?" tanyaku sambil membuka pintu penumpang.
"Boleh, Mbak. Lagi musuhan ya?" jawab sopir taksi online tertawa kecil.
Aku nggak tahu apa maksudnya. Namun kusenyum saja. Rasa capek badan dan pikiran membuatku cuek dan tak peka.
Perjalanan menuju rumahku sekitar sepuluh menit dengan mobil. Sopir itu
terdiam dengan sesekali melirik ke spion yang memantulkan arah belakang.
Awalnya aku nggak merasakan apa pun. Tapi..... bau amis menyengat mulai
tercium. Seperti bau darah ala mens.
"Mbak.... kok bau amis ya?"
"Nggak tahu, Pak. Saya nggak lagi datang bulan hehehe," lirihku sambil tertawa kecil agar suasana mencair.
Namun, sopir justru terdiam. Wajahnya mulai pucat. Apakah dia masuk angin? Atau.....
"Su.. sudah sampai, Mbak."
"Iya, terima kasih ya, Pak."
Aku memberi bintang lima diaplikasi dan keluar dari mobil. Sopir itu
bergegas menginjak gas mobil, melaju agak kencang. Menghilang di ujung
jalan belok, sangking kencangnya, sudah tak terlihat mobil taksi itu.
Aku membuka pintu dengan kunci cadangan. Jam segini tentu saja orang
tuaku sudah tidur. Waktu menunjukkan pukul 23.45 hal yang tak masuk
akal. Kok jadi lama banget perjalanan kantor ke rumah?
Aku pun masuk ke rumah. Berjalan di lorong dan naik tangga dengan cahaya
yang minim. Orang tuaku memang suka berhemat listrik. Aku membuka
kamar. Meletakkan tasku yang berat dan mengambil baju ganti untuk
sekedar membasuh badan dan cuci muka.
Aku ke kamar mandi di dalam kamarku. Ayah memang sengaja membuat kamar
mandi di dalam kamarku. Seusai mandi dan berganti pakaian, aku bergegas
berbaring di ranjang.
Sudah pukul 00.01 aku mencoba memejamkan mata tetapi susah. Kuambil gawai di atas mejaku. Ada satu pesan kuterima.
Aku pun membuka pesan itu. Ternyata dari Budiman.
[ Mbak ini saya Budiman. Tadi beneran Mbak di lantai 15? Soalnya pukul
21.00 saya keliling cek dan kunci ruangan dari lantai 10 sampai 20 tidak
ada orang. Sudah dua minggu ini pemilik gedung menganjurkan tidak
memakai ruangan di atas jam sembilan malam. Terlebih setelah kejadian
itu.... ]
Aku pun bingung dengan pesannya. Segera kubalas.
[ Maksudnya gimana ya, Mas? Kejadian apa? Malah nggak tahu apa-apa. Bos ngasih tugas mendadak sih. ]
[ Mbak sudah sampai rumah? ]
[ Sudah sampai, Mas. ]
[ Tadi bau amis di jalan? ]
[ Iya, Mas. Pas di taksi. Kok tahu? ]
Aku jadi merasa takut. Pasti ada sesuatu.
[ Mbak... Pak Djati itu sudah meninggal dua minggu yang lalu. ]
DEG! Seketika bulu kuduku berdiri. Merimding sekujur tubuh. Aku lekas
membalas chat dari Budiman dengan penuh pertanyaan di dada.
[ Bercanda ya, Mas? ]
[ Mbak, ngapain saya bercanda di malam Jumat Kliwon begini. Ini saya
langsung kumpul sama satpam baru. Mbak jangan matiin lampu ya selama
tujuh hari jangan di tempat gelap. ]
[ Emang kenapa, Mas? ]
[ Besok saya ceritakan, Mbak. Pagi saja. Selamat malam. ]
Aku meletakkan handphone di meja samping ranjangku. Rasanya antara
percaya atau tidak. Namun, ketakutan menyeruak di dada. Aku bergegas
tidur. Mengenakan selimut sampai menutupi wajah. Berharap lekas hanyut
ke alam mimpi dan terbangun di pagi hari.
***
Aku berlari dari kantorku. Lantai 15 gedung ini, bagaimana aku bisa
lolos? Lift kutekan dengan cepat tetapi nihil. Angkanya hanya terdiam.
Akhirnya aku turun melewati tangga darurat. Ketakutan dan tergesa-gesa.
Aku menuruni anak tangga hingga melewati lantai satu per satu menuju ke
pintu EXIT lantai 1.
Keringat menetesi dahiku. Terlebih saat mencoba membuka pintu EXIT
tetapi tak bisa. Beberapa kali kudobrak pintu itu. Entah tenagaku yang
kurang atau pintu yang terlalu kokoh.
Sesaat kurasa ada sesuatu di balik punggungku. Aku ketakutan dan gemetar. Bahkan untuk menengok pun aku tak sanggup.
Tiba-tiba.....
Aku terbangun dari tidur. Rasa takut masih terasa. Gemetar. Untung hanya mimpi. Seakan nyata. Membuatku ketakutan setangah mati.
Sial! Hampir jam tujuh pagi. Aku bisa terlambat. Bergegas kuberanjak
dari ranjang. Menyiapkan keperluan bekerjaku. Mandi sebentar dan lekas
berangkat.
Beberapa pesan di gawai tak kupedulikan. Aku berlari mencari ojek biasa
di pangkalan. Segera meluncur ke kantor. Walaupun jam kerja pukul 08.00,
aku sudah terbiasa sampai di sana setengah jam sebelum waktu bekerja
dimulai.
Sesampainya di depan gerbang gedung berlantai 20 itu, Budiman
melambaikan tangan ke arahku. Dia berada di pos satpam depan gedung
dekat jalan ke parkiran. Aku pun menuju ke sana.
"Pagi, Mbak," sapa Budi.
"Pagi, Mas. Ini bener nungguin aku?"
"Iya, Mbak. Tadi aku udah sms sih tapi belum dibalas. Duduk sini, Mbak di pos."
"Iya, terima kasih. Mau cerita apa sih?" selidikku penasaran.
"Begini ceritanya Mbak.... Dua minggu yang lalu Pak Djati ijin untuk
tidak bekerja, tetapi sama atasan tidak diijinkan. Lalu malam harinya
saat beliau jaga shift malam, lift tiba-tiba rusak dan tidak bisa
terbuka. Beliau mengecek karena ada emergrncy call dari lift. Naiklah
melalui tangga darurat. Entah karena apa, Pak Djati terjatuh dari tangga
darurat. Keterangan Dokter sih serangab jantung. Cuma anehnya, lift
rusak di lantai 7 tetapi Pak Djati ditemukan meninggal di tangga darurat
lantai 15. Kejadiannya sengaja ditutupi agar penyewa gedung tidak
takut. Hanya saja pemilik memberi pengumuman setelah jam sembilan malam,
lantai 11 ke atas ditutup sementara. Makanya kemarin saya kaget kok
Mbak bisa turun padahal liftnya dikunci," jelas Budiman sambil menengok
kanan kiri tak tenang.
Aku terdiam sejenak. Kalau begitu yang tadi malam mengantarku turun,
arwahnya Pak Djati? Yaampun.... seketika aku merinding. Padahal cahaya
matahari mulai naik membawa kehangatan.
"M-mas... berati semalam itu hantu?"
"Kemungkinan iya, Mbak.... tapi Mbak nggak diganggu kan? Bau amis gitu biasanya diikuti...." lirih Budiman dengan wajah serius.
"Wah bikin takut aja, Mas. Kok nggak ada yang cerita ya di kantorku?"
"Mana berani, Mbak. Waktu kejadian kan malam. Beberapa orang saja yang
tahu dan nggak diekspose. Sebaiknya jangan pulang malam lagi, Mbak.
Takutnya bukan arwah Pak Djati yang jahat.... tapi...." Budi memelankan
suaranya.
"Hey! Ayo naik! Sudah mau jam delapan loh!" seru temanku memanggil.
"Wah, maaf Mas, aku duluan yaa... Terima kasih infonya," aku berlari menghampiri teman sekantorku, Danny.
Budiman melihatku berlari. Dia tidak menyelesaikan kalimat terakhirnya. Aku sebenarnya penasaran.
Aku bekerja dengan rasa penasaran yang tinggi. Rasanya ingin mengetahui
ada apa dengan gedung ini. Sejak kantor pindah ke gedung ini, aku nggak
nyaman untum lembur. Jujur, aku nggak suka ketinggian. Selain itu naik
lift malam-malam itu mengerikan, terlebih sendirian.
Danny yang berada di samping mejaku bertanya, "Kamu kenapa banyak ngelamun? Ntar kerjaan nggak selesai loh."
"Hmm... aku baru mikirin sesuatu," jawabku singkat.
"Mikir apa Dini? Cerita sini...."
"Kamu pernah lembur di sini?"
"Oh, pernah... Mending jangan lembur. Kalau ada tugas bawa pulang aja. Emang kenapa? Kemarin kamu pulang, kan?"
Aku pun terdiam sejenak. Danny pasti juga merasakan ada yang tak beres di gedung ini.
"Aku... terpaksa lembur karena Bos kasih tugas mendadak. Danny.... waktu kamu lembur, ada kejadian aneh nggak?"
Wajah Danny langsung memucat, "Dini, sorry ya aku nggak bisa bahas hal
itu di sini. Cuma kusarankan sebelum Maghrib lebih baik bawa kerjaan
pulang. Jangan di sini. Banyak teman yang cerita juga. Dulu aku nggak
percaya, setelah ngalami sendiri baru percaya."
"Gitu ya.... Iya, aku usahakan nggak lembur. Aku juga takut. Tadi malam
ada hal aneh. Maka dari itu tadi Mas Budiman satpam ngajak ngomong aku."
"Siapa?" tanya Danny terkejut.
"Mas Budiman sekurity. Kamu tahu kan?"
"Jangan bercanda deh, Dini! Mas Budiman sudah meninggal dua hari yang
lalu di Pos Satpam depan. Dia kesetrum pas jaga malam," jelas Danny.
"Serius? Bercanda nggak? Tadi malam dia SMS aku pun," jawabku sambil mengeluarkan handphone.
Saat hendak menunjukkan kepada Danny, semua chat dengan Budiman menghilang. Aku jadi makin bingung.
"Tadi di Pos Satpam, aku ama Budiman bahas soal Pak Djati yang meninggal misterius di tangga darurat," imbuhku.
"Iya, Pak Djati memang meninggal. Tadi aku sengaja manggil kamu karena kamu bengong di sana hampir tiga puluh menit."
"Berarti semalam yang antar aku naik lift hantunya Pak Djati? Terus yang
semalam ngajak ngomong, SMS dan tadi pagi ngobrol ama aku itu hantu
juga?" tanyaku memastikan.
Seketika kepalaku pening, rasanya lemas dan takut bercampur padu. Aku
nggak menyangka kalau dua sosok yang kukira manusia ternyata hantu.
Gedung ini memang aneh. Rumor itu ternyata benar semenjak lantai 15
kebakaran dan merambat ke lantai 16, banyak korban yang meninggal di
kantor maupun tangga darurat, suasana gedung ini jadi angker.
Setelah mengalami renovasi dan penyewaan lantai 15 dan 16 dengan discont
besar, kantorku lah yang pertama menempati bekas kebakaran ini. Banyak
yang mengeluh diganggu mulai dari barang berpindah atau disembunyikan,
langkah kaki tanpa ada si empunya, bau amis, bau sesuatu terbakar,
hingga suara jeritan yang pernah terdengar dan tak tahu berasal dari
mana.
Kantorku tidak menyelesaikan kontrak gedung. Baru tiga bulan, Bos
memutuskan indah. Meninggalkan 9 bulan sisa kontrak tanpa ada yang mau
menggantikan sewa.