Merdeka.com -
Ketika kita berbicara soal kontrol cuaca atau perpawangan hujan dan
panas, tentu hal ini tak ada hubungannya dengan kajian ilmiah. Sebagian
besar hal ini merupakan praktik klenik yang sama sekali tak melibatkan
sedikit pun kadar ilmiah.
Namun ternyata di berbagai belahan Bumi, kegiatan yang bertujuan untuk
pengontrolan cuaca dan penyemaian awan, beberapa kali dilakukan
eksperimennya. Upaya ini dilakukan guna mencegah kekeringan,
meningkatkan produyksi pangan, atau bahkan ingin membersihkan atmosfer
dari polusi.
Berikut beberapa upaya dan eksperimen untuk memanipulasi cuaca, yang bukan merupakan praktik klenik.
1. China berhasil 'mengusir' hujan demi Olimpiade
Spoiler for :
Merdeka.com
- Jelang Olimpiade 2008 di Beijing, upacara pembukaan adalah hal yang
paling disiapkan secara habis-habisan oleh pemerintah China. Tentu momen
ini tak mau dirusak oleh hujan dan cuaca buruk lainnya. Akhirnya,
pemerintah China menjalankan program penyemaian awan.
Melansir independent.co.uk, hal ini dilakukan dengan cara menembakkan
1.000 roket ke udara di hari-hari menjelang upacara pembukaan. Hal ini
dilakukan untuk menyebarkan awan hujan yang mengancam dengan hujan yang
besar.
Di China sendiri, kegiatan ini merupakan hal biasa. Pemerintah China
sangat gemar memastikan sebuah hari libur tetap kering dan bebas hujan
dengan cara tersebut. Seringkali dengan metode yang sama, hujan juga
dibuat untuk membersihkan beberapa area dari polusi dan asap hingga
langit tetap biru bebas kabut asap.
2. Project Cirrus yang berhasil alihkan badai
Spoiler for :
Merdeka.com
- Salah satu eksperimen cuaca yang terkenal melibatkan militer adalah
Project Cirrus yang dilakukan militer AS. Proyek yang dilakukan tahun
1947 ini dimaksudkan untuk 'memodifikasi badai.'
Melansir The Black Vault, hal ini dilakukan karena prakiraan cuaca
menyebut bahwa ada sebuah badai yang ingin diubah arah berjalannya.
Perlawanan terhadap badai ini dilakukan dengan cara menerbangkan
beberapa pesawat militer AS ke arah badai tersebut dan ketika berada di
dalam badai, setiap pesawat melepaskan 82 kilogram dry ice yang telah
dihancurkan.
Parahnya, badai yang awalnya mengarah ke lautan lepas, akhirnya justru
mengarah ke kota bernama Savannah, yang berada di negara bagian Georgia.
3. Program peningkatan curah hujan di Afrika Selatan
Merdeka.com
- Dengan menggunakan solusi teknologi penyemprotan hibrida dari Afrika
Selatan, program penyemaian awan secara canggih dilakukan di negara
tersebut dengan upaya meningkatkan curah hujan guna meningkatkan panen.
Dilansir dari Research Gate, pemerintah Afrika Selatan bahwa menggunakan
radar dan teknologi satelit untuk memantau pergerakan awan selama 4
tahun, dari 1997 hingga 2001. Selama 4 tahun tersebut, ada 95 badai yang
diciptakan, dan sepertiga dari kesemuanya efektif meningkatkan curah
hujan.
Secara rata-rata, dari 37 badai yang berhasil dibuat, terdapat dua kali
lipat curah hujan dari apa yang diharapkan. Proyek ini akhirnya
direkomendasikan untuk dipelajar lebih lanjut dan dikembangkan dengan
teknologo lebih canggih.
4. Illinois dan Israel sudah 'memodifikasi cuaca' sejak tahun 70-an
Spoiler for :
Merdeka.com
- Negara bagian Illinois, AS, adalah negara yang cukup bergantung pada
pertanian di sebagian besar industrinya. Dengan iklim yang kering di
area Midwest AS, modifikasi cuaca sudah terpikirkan sejak tahun 70-an.
Dilansir dari jurnal yang dipublikasikan di Illinois Periodicals Online,
yang juga ditulis oleh presiden dari Weather Modification Association
saat itu, Stanley A. Changnon, Illinois-lah yang pertama punya ide soal
modifikasi cuaca, dan eksperimen pertama sudah dilakukan pada tahun
1975. Tentu eksperiman di kala itu masih banyak yang belum berhasil, dan
tidak ada perubahan signifikan dalam hal cuaca.
Israel juga melakukan berbagai eksperimen sejak serupa tahun 70-an, agar
curah hujan dari laut Mediterania bisa tumpah di negara tersebut.
5. Uni Emirat Arab adalah negara pertama di jazirah Arab yang menyemai awan
Spoiler for :
Merdeka.com
- UEA adalah negara yang sangat maju, serta memiliki teknologi dan
pengembangan negara yang terdepan di dunia saat ini. Tak heran kalau
negara yang sebenarnya terletak di tengah gurun ini, ingin menggunakan
dan mengembangkan teknologi penyemaian awan.
Melansir website Kementerian Urusan Kepresidenan UEA, hal ini sudah
dilakukan dengan sangat baik di UEA. Dengan menggunakan satelit dan
radar, semua aspek cuaca di seluruh dunia dipantau setiap saat. Dari
penelitian intensif berdasar data satelit dan radar, ilmuwan mengetahui
awan mana di sepanjang tahun yang bisa disemaikan dan secara efektif
akan turunkan hujan di negara ini.
6. Di masa lalu, hal ini terlarang
Spoiler for :
Merdeka.com
- Ide untuk 'mengatur' waktu hujan adalah hal yang sebenarnya sudah
lama dikonsepkan. Meski bertentangan dengan takdir, pernah ada ilmuwan
yang mencoba membuatnya. Dialah Wilhelm Reich.
Tentu, hal ini bertentangan dengan masyarakat dan pemerintah yang di zaman dahulu masih kental dengan unsur keagamaan.
Ide ini muncul karena Reich sangat prihatin dengan keadaan di daerah
tempat dia tinggal, yakni negara bagian Maine, AS, dilanda kekeringan
sehingga panen bluberi di sana anjlok. Akhirnya, ia membuat sebuah
penemuan bernama 'Cloudbuster'
Dikutip dari Bangor Daily News yang meliput langsung percobaan
pertamanya, alat ini bekerja sesuai harapan. Prakiraan cuaca tak
menyebut akan ada hujan di hari tersebut, dan setelah menyalakan mesin,
awan badai terbentuk dan menghasilkan hujan 0,64 centimeter.
Namun tidak sampai lanjut ke percobaan kedua, peralatan Reich disita
oleh pemerintah dengan alasan tertentu. Jika tak dilakukan percobaan
secara terus menerus, tentu belum diketahui apakah hal tersebut bisa
diandalkan atau tidak. Meski sampai sekarang, alat semacam itu tidak ada
lagi.
7. Kanada berhasil 'keluar dari badai' berkat penyemaian awan
Spoiler for :
Merdeka.com
- Kanada adalah negara yang secara geografis akan sering tertimpa hujan
badai salju yang intens. Hal ini membuat Pemerintah Kanada membentuk
proyek penanggulangan cuaca buruk. Caranya, proyek tersebut secara
berkala menerbangkan pesawat secara tepat ke mata badai.
Melansir CBC, pesawat berangkat dari bandara di Didsbury, Alberta, dan
di tengah badai, pesawat menyalakan api berisi ioida perak. Hal ini
dilakukan agar badai es jadi lebih cair.
Terbukti, hal ini berhasil menurunkan kerusakan properti akibat terhujam
es. Kanada sendiri menggelontorkan 3 juta Dollar per tahun untuk proyek
ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar